Jejak Penjajahan Maluku Itu Ada di Benteng Amsterdam

Tidak seperti benteng kebanyakan yang luas dan megah, Benteng Amsterdam justru terlihat sangat sederhana. Tidak butuh waktu lama untuk berkeliling benteng.

Walau tempatnya terbilang kecil untuk bisa disebut benteng namun Benteng Amsterdam telah menjadi saksi bisu betapa kuatnya penjajah dalam menguasai wilayah Maluku. Saat ini, benteng yang berada di desa Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah ini dikenal sebagai benteng tertua di provinsi itu.

Tak banyak yang tahu, walaupun menyandang nama Amsterdam, namun benteng ini sejatinya didirikan oleh pemerintah kolonial Portugis. Penggagasnya, Fransisco Serrao, mulai membangun benteng pada tahun 1512.

Awalnya, bangunan ini dibangun bukan berperan sebagai benteng pertahanan. Portugis menggunakan bangunan ini sebagai loji, semacam gudang, tempat penyimpanan cengkeh dan hasil bumi lainnya dari Maluku.

Baru di awal era 1600-an, saat Belanda dan rakyat Maluku mengusir Portugis, bangunan ini dikuasai oleh Kamar Dagang Belanda (VOC) dan dijadikan sebagai benteng pertahanan. Benteng ini merupakan salah satu objek vital bagi VOC lantaran menjadi pusat pertahanan militer terhadap perlawanan dari Kerajaan Tanah Hitu, sebuah kerajaan yang berkuasa di Maluku Tengah.

Bangunan yang bisa kita jelajahi saat ini pun sebenarnya bukan bangunan asli. Sebab, Gubernur Jenderal yang berkuasa saat itu, Jaan Ottens, menghancurkan bangunan asli yang didirikan Portugis dan membangunnya kembali menggunakan bahan batu-batu alam yang diambil dari sekitar pantai.

Selain membangun kembali, VOC juga menambahkan pagar pertahanan yang mengelilingi benteng. Pembangunan baru selesai pada dekade 1650-an dan mulai saat itulah bangunan tersebut menyandang nama Benteng Amsterdam.

Letak Benteng Amsterdam memang agak jauh dari pusat Kota Ambon, terpaut 42 km. Kita bisa menyewa mobil atau menggunakan angkutan kota yang menuju ke Laha atau bis Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) yang menuju ke Hila.

Sembari berkunjung ke Benteng Amsterdam, kita juga bisa mengunjungi Pantai Luwa dan Waisahi yang masih jarang dikenal wisatawan. Walaupun tidak banyak atraksi wisata, namun kita bisa menjadikan pantai-pantai ini sebagai tempat memanjakan diri dan menikmati sejuknya angin laut.