Uji Nyali di Langit Manado

Nah, jika punya parasut sendiri dan sudah mengikuti kelas, Sobat Pesona bisa bebas terbang kapan saja dan dimana saja. Gratis! Sobat Pesona juga bisa terbang sebanyak-banyaknya. Namun, kalau seperti saya yang belum punya izin terbang, maka kita harus membayar biaya pilot pendamping, alat, dan keperluan lain sesuai spot terbangnya.

Berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Manado, atau sekitar 45 menit perjalanan, saya melintasi jalan yang bersebelahan langsung dengan Teluk Manado, sebelumnya akhirnya belok kiri, dan melewati belasan perkampungan padat penduduk. Tujuan saya kali ini adalah Manado Sky Line.

Manado Sky Line terletak di Bukit Tetempangan pada ketinggian 568 mdpl. Selama beberapa tahun terakhir, Bukit Tetempangan menjadi surga bagi para penggiat paralayang tingkat nasional hingga internasional.

Kawasan dengan luas 20 hektare ini  disebut-sebut memiliki tiga titik arah lepas landas  yang memungkinkan pilot paralayang terbang ke tiga arah. Hal inilah yang menjadikan Manado Sky Line lebih istimewa bila dibandingkan dengan kebanyakan lokasi paralayang di Indonesia, bahkan  dunia, yang hanya punya satu titik arah lepas landas.

Kedatangan saya kali ini berbarengan dengan lusinan wisatawan asal Tiongkok yang tampak antre menunggu giliran terbang. Sejumlah atlet paralayang pun sedang bergantian lepas landas dengan mulus menuju arah Teluk Manado. Tak hanya dewasa, beberapa turis cilik juga antusias menunggu giliran.

“Sudah enggak usah nervous, santai aja. Bayangkan saja sedang naik pesawat,” kata Daniel, instruktur paralayang mencoba membuat saya lebih rileks. Perasaan saya jadi campur aduk. Antara penasaran, senang dan takut yang jadi satu.

Nah, jika punya parasut sendiri dan sudah mengikuti kelas, Sobat Pesona bisa bebas terbang kapan saja dan dimana saja. Gratis! Sobat Pesona juga bisa terbang sebanyak-banyaknya. Namun, kalau seperti saya yang belum punya izin terbang, maka kita harus membayar biaya pilot pendamping, alat, dan keperluan lain sesuai spot terbangnya. Harganya sekitar 500 ribu hingga 750 ribu rupiah per orang per sekali terbang.

Pilot pendamping meminta untuk saya berlari kencang, sedikit melompat dari atas bukit.  Lalu, “fiuhh”. Paralayang saya langsung lepas landas dan membuat perut saya terasa hilang, bahkan mual bukan kepalang. Angin lembah membawa paralayang membumbung tinggi, memberikan pemandangan lanskap Manado yang memesona. Hamparan hijaunya bukit berpadu dengan birunya laut dan gagahnya Gunung Manado Tua di kejauhan.

Bagi saya, paralayang selalu menawarkan sensasi tersendiri. Terombang-ambing di angkasa dan merasakan angin dingin menerpa seluruh tubuh, membuat adrenalin sampai di ubun-ubun.

Beberapa kali manuver pilot, membuat perut saya seperti diaduk-aduk. Namun,  justru inilah letak keseruannya. Sambil sedikit ngeri, saya berteriak sekencang-kencangnya, sesuka hati. Sesekali maneuver berjalan begitu ekstrem. Haluan dibanting ke kanan, lalu langsung ke kiri. Saya hanya bisa pasrah dan berteriak sambil tak lupa komat-kamit mengucap doa.

Lima belas menit melayang-layang di atas Teluk Manado, lokasi pendaratan saya sudah terlihat jelas. Sebuah gundukan pasir menjadi tempat mendarat yang empuk bagi saya dan pilot pendamping. Manado Skyline adalah pilihan tepat untuk membuka perjalanan di utara Sulawesi yang memiliki pesona alam dan budaya yang mengundang pelancong dari berbagai belahan dunia.