Melihat Kampung Pecinan di Senggarang Kecil

Karena berada di pesisir, pinggiran selat, pecinan di Senggarang Kecil berupa rumah-rumah panggung yang dibangun di pinggir pantai, sebagian masih berupa rumah kayu. Destinasi paling populer adalah Vihara Akar dan Klenteng Sun Te Kong.

Wisata sejarah dan budaya di Nusantara yang tidak bisa diabaikan adalah Pecinan, sebutan untuk kampung atau tempat tinggal warga keturunan Tiongkok yang biasanya berkumpul dalam satu lokasi yang kental dengan budaya peranakan. Hampir di semua kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Tangerang, Palembang, Medan, Bandung, Banjarmasin, ada pecinan.

Termasuk juga di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Di kota ini, malah ada dua tempat yang diidentikkan dengan pecinan. Yang paling tua, yang dikenal sebagai kampung lama, ada di Senggarang Kecil.


Rumah Panggung di Kampung Pesisir
Di Glodok Jakarta, atau Pasar Lama Tangerang, Pecinan identik dengan rumah-rumah permanen, terbuat dari batu-bata, dengan arsitektur untuk pintu, jendela, dan atapnya khas bergaya Tionhoa. Kampung Pecinan di Senggarang Kecil berbeda. Karena berada di pesisir, pinggiran selat, pecinan di Senggarang Kecil berupa rumah-rumah panggung yang dibangun di pinggir pantai. Sebagian masih berupa rumah kayu, sebagian lagi berupa rumah permanen baru yang terbuat dari beton. Tapi, tetap berupa rumah panggung.

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di tempat ini. Yang paling populer adalah Vihara Akar dan Klenteng Sun Te Kong. Vihara Akar adalah vihara baru yang dibangun dibekas reruntuhan rumah Kapitan Tan Ngueng Ga. Kapitan Cina pertama di Senggarang. Yang membuatnya unik, akar pohon beringin menutupi dan tumbuh di sisa-sisa tembok lama. Karena itu, tempat ini dikenal sebagai Vihara Akar.

Yang paling besar dan banyak dikunjungi adalah Klenteng Sun Te Kong. Nama lainnya, Vihara Dharma Sasana. Dua patung budha berukuran raksasa yang ada di bagian belakang vihara menjadi ikon tempat ini.    

Di peta digital keluaran Google, di daerah Senggarang Kecil ditunjukkan ada Rumah Kapitan Tan So Kie. Pejabat Cina pada masa kolonial di tahun 1916-1942. Namun, yang tersisa tinggal reruntuhan batu-bata dengan bangunan kayu baru di kanan-kirinya.

Waktu Pesona.Travel bertanya pada warga setempat perihal rumah tersebut, mereka bahkan banyak yang tidak mengetahuinya. Bu Jurita, cucu menantu yang sekarang tinggal di sebelahnya bercerita kalau ia sempat merasakan tinggal bersama keluarga besarnya di rumah tersebut.

Namun, bukan lagi berupa rumah batu, sudah berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah yang tinggal sekarang ini bukan lagi bangunan lama, sudah berubah dari sebelumnya karena sudah direnovasi. Sebagai bekas rumah kapitan, rumah yang ada sekarang ini, terbilang sederhana.


Foto : Sadono