5 Destinasi Kece, 3 Jam di Pulau Penyengat

Dengan meluangkan waktu sekitar tiga jam, sudah termasuk waktu untuk menyeberang pergi-pulang dari Tanjung Pinang, kita sudah bisa mendapat banyak hal di sini. Ada 5 destinasi kece yang bisa kita eksplore di puau kecil ini.

Wisata di Kepulauan Riau, khususnya Tanjung Pinang, identik dengan Pulau Penyengat. Ya, ini memang tempat yang wajib dikunjungi. Apalagi, kalau kamu suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan wisata budaya atau sejarah.

Dengan meluangkan waktu sekitar tiga jam, sudah termasuk waktu untuk menyeberang pergi-pulang dari Tanjung Pinang, kita sudah bisa mendapat banyak hal di sini. Yuk, simak bisa dapat apa saja...


Masjid Raya Sultan Riau
Ini tempat wajibnya. Ikon Pulau Penyengat, juga ikon wisata Tanjung Pinang, Masjid Raya Sultan Riau. Masjid yang dibangun pada  1803 ini memiliki arsitektur yang cantik dan unik. Selain warnanya yang mencolok, dominan dengan kuning dan hijau muda yang cerah, ciri warna-warna yang disukai oleh orang Melayu, ornamen pada pintu-pintu kayu pada bangunan di sekelilingnya membuat masjid ini jadi makin manis.




Gedung Mesiu
Berjalan sedikit ke belakang masjid. Lewat jalan Bukit Kursi, kita akan ketemu dengan Gedung Mesiu. Bangunan yang digunakan untuk menyimpan persenjataan milik kerajaan. Dulunya ada empat gedung mesia di Pulau Penyengat. Namun, ini satu-satunya yang sekarang masih tersisa.


Makam Raja Abdulrahman
Raja Abdurrahman adalah anak Raja Haji yang memerintah Kerajaan Riau tahun 1831-1844. Raja Abdulrahman Yang Dipertuan Muda VII yang merenovasi masjid Agung Sultan Riau menjadi seperti yang sekarang ini.


Benteng Bukit Kursi
Naik sedikit lebih ke barat, kamu akan berujung di Benteng Bukit Kursi. Benteng pertahanan yang digunakan Raja Haji Fisabilillah saat berperang melawan VOC pada 1782-1784. Nama raja yang diangkat menjadi salah satu pahlawan nasional dari Penyengat inilah yang kemudain diabadikan menjadi nama Bandara di Tanjung Pinang.

Menurut cerita Rian Firmansyah, penggita sejarah Tanjung Pinang dari Lembaga Adat Melayu, dinamkan Bukit Kursi karena berlangsungnya pertempuran tersebut, pasukan Raja Haji Fisabilillah mengiringinya dengan lantunan ayat-ayat kursi di atas bukit tersebut.


Reruntuhan Rumah Tabib
Bukit Kursi adalah ujung untuk pilihan jalur ini. Kita harus kembali ke Masjid Raya Sultan Riau kalau ingin keliling, melihat lebih banyak lagi tentang Pulau Penyengat. Tapi, dengan empat objek ini, melewatkan waktu dua jam terasa cepat sekali.

Kalau masih punya waktu, di depan masjid, kurang dari seratus meter, ada reruntuhan bangunan tua terbuat dari  batu bata dengan bekas akar pohon merambat di salah satu sudutnya. Reruntuhan rumah tabib. Batu bata bangunan ini dibawa dari Batam, yang dulunya dikenal sebagai daerah penghasil batu bata, yang menjadi asal muasal nama Batam.


Foto : Sadono