Indahnya Arsitektur Ragam Budaya di Taman Sari

Sentuhan arsitektur Portugis tampak kental pada bangunan Taman Sari, serupa dengan bangunan-bangunan yang masih dapat ditemukan di Portugal. Ada beberapa elemen yang mempengaruhi arsitektur bangunan seperti pengaruh dari Hindu dan Budha, Jawa, Islam, Cina, Portugis dan gaya Eropa.

Pasiraman Umbul Binangun. Begitulah sebutan lain untuk sebuah bangunan yang selama ini lebih  dikenal dengan nama “Taman Sari”, bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari Keraton Yogyakarta. konon, Taman Sari digunakan oleh Sultan Hamengku Buwono I untuk mandi, beristirahat dan bersantai. Kolam yang terdapat di sana kini menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.

Dibangun pada tahun 1758, ide awal pembangunan Taman Sari berasal dari Pangeran Mangkubumi (yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I) dan Raden Ronggo Prawirosentiko (Bupati Madiun) sebagai arsiteknya, sedangkan Demang Tegis (orang Portugis asli yang mendapat gelar dari keraton) sebagai tenaga ahli strukturnya.

Selain sebagai tempat rekreasi bagi keluarga kerajaan di zaman itu, Taman Sari mempunyai berbagai fungsi, di antaranya sebagai camouflage area terhadap musuh-musuhnya, sistem benteng pertahanan, tempat meditasi bagi raja, tempat membuat batik yang dilakukan oleh para selir raja dan putri-putri raja dan sebagai tempat berlatih kemiliteran bagi tentara kerajaan.

Sentuhan arsitektur Portugis tampak kental di bangunannya, serupa dengan bangunan-bangunan yang masih dapat ditemukan di Portugal. Ada beberapa elemen yang mempengaruhi arsitektur bangunan seperti pengaruh dari Hindu dan Budha, Jawa, Islam, Cina, Portugis dan gaya Eropa.

Taman Sari mempunyai dua pintu gerbang utama, yaitu Gapura Agung (di bagian barat) dan Gapura Panggung (di bagian timur). Sejak 2007, kedua pintu itu digunakan sebagai akses masuk utama ke kompleks Taman Sari. Bentuk pintu gerbangnya indah dengan motif asli Jawa menggambarkan bagian-bagian tanaman, burung, ekor dan sayap burung garuda.

Di Taman Sari terdapat sebuah lorong. Menurut cerita yang dipercaya secara turun temurun, lorong ini merupakan penghubung yang berakhir di Pantai Parangkusuma, area barat dari Pantai Parangtritis. Konon, raja-raja Yogyakarta mempunyai hubungan kuat dengan Ratu Pantai Laut Selatan (Nyi Roro Kidul), dan melalui lorong inilah mereka melakukan pertemuan dengan Sang Ratu Kidul. Karena alasan umur dan keamanan, lorong tersebut akhirnya ditutup.

Tidak jauh dari lorong tersebut, terdapat sebuah bangunan yang berbentuk lingkaran yang digunakan sebagai masjid oleh warga keraton dahulu kala. Berbeda dari bangunan masjid umumnya, bangunan ini berbentuk lingkaran dengan dua lantai. Di setiap lantainya terdapat dua pintu yang menyerupai bentuk jendela. Lantai satu dan dua terhubung melalui lima tangga.  Dalam kepercayaan saat itu, angka lima dipilih untuk melambangkan lima rukun Islam. Di bawah anak tangga tersebut terdapat sumur atau mata air, yang disebut Sumur Gumuling.

Di bagian utara Tamansari terdapat bangunan tinggi, yang konon digunakan sebagai tempat jamuan makan Sultan kala itu. Kini di tempat ini, apabila kita menghadap ke utara, mata kita akan “dimanjakan” dengan pemandangan kota Yogyakarta dengan keindahan Gunung Merapi di latar belakang. Taman Sari merupakan salah satu dari 100 Situs yang Paling Terancam (Most Endangered Sites) 2004. Jadi, harus kita lestarikan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Artikel Misbachul Munir lainnya:
Ceprotan, Saling Lempar Cengkir Tanda Saling Membantu