Kuda Takengon, Primadona Tangguh di Pacuan Balap

Primadona dari dataran tinggi Aceh, legenda di trek balap kuda, pacu kude. Pacu Kude ini pernah dijadikan gambar perangko berseri oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bersama dengan Kuda Sumbawa dan Kuda Lumping.

Pada masanya, kuda-Kuda Takengon pernah menjadi primadona. Ketika kendaraan bermotor belum sebanyak sekarang, warga Aceh Tengah menggunakan kuda sebagai transportasi sehari-hari. Tidak hanya mengangkut manusia, kuda-kuda ini juga dimanfaatkan untuk mengangkut barang ataupun mengolah lahan. Kemajuan zaman, membuat kuda Takengon tidak lagi digunakan untuk berkendara. Namun, kuda Takengon tetap eksis dan kini menjadi ikon ajang pariwisata. Yaa, ada satu ajang pariwisata di kalangan warga gayo yakni Pacu Kude Takengon.

Sobat Pesona yang pernah mengunjungi Takengon pasti paham betul, seberapa tenar balap kuda ini. Saking tenarnya, Pacu Kude ini sampai dijadikan gambar perangko berseri oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Bersama dengan Kuda Sumbawa dan Kuda Lumping, perangko bergambar Kuda-Kuda Takengon ini dipamerkan di Kantor Filateli Jakarta pada tahun 2014 silam.


Pembalap Legendaris di Gayo Highland
Kuda Takengon adalah pembalap legendaris di Dataran Tinggi Gayo. Menurut kisah yang beredar di tengah warga setempat, Pacu Kude Takengon ini dimulai dari daerah Bintang yang merupakan lokasi mukim paling timur dari Danau Lut Tawar. Seiring berkembangnya zaman, penyelenggaraan Pacu Kude Takengon juga semakin maju.

Jika dahulu balap kuda dimulai dengan “lepas bendera”, kini di era modern, Pacu Kude dimulai dengan “Starting Gate”. Hal ini dilakukan Pemerintah setempat untuk meminimalisir keributan yang sering terjadi antara pemilik dan joki. Selain itu, dengan metode “Starting Gate”, diharapkan Pacu Kude Gayo terlihat lebih menarik untuk disaksikan.

Tidak hanya itu, peralatan berpacu pun kian modern. Jika dulu para joki hanya mengenakan alat seadanya, bahkan tanpa safety yang baik, kini mereka sudah bertanding dengan memakai pelana. Alat-alat yang menunjang keamanan juga mulai dipasangkan ke kuda. Namun, biasanya pelana dan alat-alat ini hanya akan dikenakan saat bertanding di kelas A, bukan bertanding secara lokal.

Pemerintah kota Takengon juga terus menjaga populasi Kuda-Kuda Takengon. Perkawinan silang dilakukan untuk meningkatkan performa kuda Takengon. Biasanya, Kuda Australia-lah yang menjadi pilihan dalam perkawinan silang ini. Tidak hanya jenis kudanya saja, budaya Pacu Kude Takengon juga tetap dilestarikan. Bersama warga sekitar, mereka bahu-membahu meramaikan Pacu Kude yang biasanya digelar dalam beberapa kalender kegiatan. Selain melestarikan budaya warisan leluhur, mengadakan lomba balap kuda juga menjadi salah satu ajang promosi pariwisata ke Gayo.

Yuk, berangkat ke Takengon!


Foto : Jaka Thoriq