Mendaki Jejak Bersejarah dari Dahsyatnya Gunung Tambora

Dengan lebar kawah 7 km, keliling kawah 16 km dan kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah kedalaman 800 m, menjadikan kawah Gunung Tambora terkenal dengan The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia). Kawah ini akibat dari adanya letusan terdahsyat di dunia yang dikenal dengan sebutan “The Largest Volcanic Eruption in History”.

Tambora merupakan salah satu dari sekian banyak gunung api bersejarah yang ada di Indonesia. Memiliki eksotisme yang menjadi magnet setiap pendaki untuk datang berkunjung dan menaklukkan puncaknya.

Sebelum meletus, Gunung Tambora mempunyai ketinggian sekitar 4.300 mdpl. Namun setelah meletus ketinggian tersebut “hilang” hampir setengah menjadi 2.851 mdpl. Dengan lebar kawah 7 km, keliling kawah 16 km dan kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah kedalaman 800 m, menjadikan kawah Gunung Tambora terkenal dengan The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia). Kawah ini akibat dari adanya letusan terdahsyat di dunia yang dikenal dengan sebutan “The Largest Volcanic Eruption in History”.

Letusan Tambora terjadi pada tahun 1815 silam, suara letusannya bahkan dikabarkan mencapai Pulau Sumatra dan menelan puluhan ribu jiwa. Tahun berikutnya (1816), sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas dengan adanya perubahan cuaca drastis di Amerika Utara dan Eropa akibat debu yang dihasilkan dari letusan. Peristiwa tersebut menyebabkan kegagalan panen dan kematian ternak massal yang pada gilirannya menyebabkan wabah kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Terlepas dari segala sejarah besar yang terjadi pada Tambora, kini gunung tersebut menjadi lokasi pendakian yang cukup populer. Terdapat dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera gunung Tambora. Rute pertama dimulai dari Desa Doro Mboha yang terletak di sisi tenggara Gunung Tambora. Lokasi ini biasanya digunakan sebagai kemah untuk mengamati aktivitas vulkanik karena hanya memerlukan waktu satu jam untuk mencapai kaldera. Rute kedua dimulai dari Desa Pancasila di sisi barat laut Gunung Tambora. Jika menggunakan rute kedua, maka kaldera hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Kebetulan saya mendaki melewati jalur pertama. Saya mencoba sensasi mendaki dengan menggunakan jeep hingga Post 2 lalu kemudian memulai trekking dengan berjalan kaki. Pemandangan sebelum puncak sangat menakjubkan. Luas hamparan sabana, semilir angin yang seakan berbisik menyambut kedatangan kami. Sesampainya di puncak, kaldera Tambora terlihat sangat agung dengan kumpulan awan yang memayungi tebing-tebing kawah. Birunya langit benar-benar menghipnotis mata. Rasanya tak sabar untuk datang yang kedua kalinya di puncak kaldera yang pernah merubah iklim dunia karena letusannya yang maha dahsyat.