Menikmati Untaian Batam, Kepulauan yang Modern

Batam sesungguhnya terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Batam, Rempang dan Galang. Ketiga pulau tersebut dihubungkan oleh jembatan ikonik Barelang. Namun di luar tiga pulau tersebut terdapat pulau-pulau kecil yang tersebar.

Saat mentari menyurut menuju senja, pemandangan dari kabin pesawat sebelum mendarat di Bandara Hang Nadim sungguh memesona. Cahaya kuning sore yang menyiram pulau-pulau di Batam menampilkan bentuk sel spora layaknya melihat dari mikroskop.

Batam sesungguhnya terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Batam, Rempang dan Galang. Ketiga pulau tersebut dihubungkan oleh jembatan Barelang yang ikonik. Namun di luar tiga pulau tersebut terdapat pulau-pulau kecil yang tersebar.

Batam hanya bagian kecil dalam gugusan lebih dari dua ribu pulau di pemerintahan Kepulauan Riau. Terdiri dari 12 kecamatan dan ditetapkan sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone), Batam kemudian tumbuh menjadi kota urban yang sibuk.

Kiranya hanya Batam yang memiliki tiga pelabuhan internasional yang modern dalam satu kota. Pelabuhan itu adalah Batam Center, Sekupang, dan Harbour Bay. Sedangkan pelabuhan kecil yang melayani rute domestik antarpulau jumlahnya lebih banyak.

Batam adalah kota yang berbatasan dengan dua negara tetangga, yaitu Singapura dan Malaysia. Sehingga tiap akhir pekan, wisatawan asing memenuhi kota yang tak luas ini. Jangan heran bila ke pasar tradisional di Batam, pengunjung bisa menemukan Ringgit Malaysia dan Dollar Singapura.

Di satu siang yang terik di tengah Februari, dengan menumpang kapal milik pemerintah Batam saya melihat pulau Batu Berantai. Pulau ini adalah pulau terluar Indonesia yang berjarak sangat dekat dengan Singapura. Pulau yang hanya diisi satu bangunan suar ini telah rampung direklamasi. Sehingga meski dalam pasang laut tertinggi, daratan di pulau yang berisi bebatuan ini akan tetap tampak.

Saat mengelilingi pulau ini, kapal kami berpapasan dengan patroli laut Singapura di perairan internasional. Dalam perjalanan itu kami juga mengunjungi Pulau Pelampong yang hanya dihuni sepuluh keluarga. Kemudian Pulau Pemping yang berisi genset raksasa sebagai penyuplai listrik.

Sejarah mencatat keteguhan Suku Laut dari abad ketujuh yang hidup di perairan Batam. Mereka menjadi penakluk ombak, angin, dan perubahan iklim di jalur pelayaran Singapura yang ramai.

Saya mengagumi jalinan pulau ini. Karena sebelumnya saya hanya mengenal Batam dari perdagangannya, pabrik-pabrik besar penggerak industri, serta makanan laut. Tapi Batam juga menyimpan keindahan pesona alam, termasuk dapat menyaksikan kemegahan gedung-gedung di ujung horizon.