Ceprotan, Saling Lempar Cengkir Tanda Saling Membantu

Sekilas, Ceprotan mirip dengan “perang” antar dua kelompok warga yang saling melempar cengkir atau buah kelapa muda yang telah direndam air sebelumnya. Sasaran pelemparan cengkir ini adalah pembawa lingkung (ayam panggang) yang berada diantara kedua kelompok tersebut.

Desa Sekar terletak di  Kecamatan Donorojo, Pacitan, Jawa Timur. Di sana, ada upacara adat yang disebut Ceprotan. Ceprotan merupakan upacara adat bersih desa yang dilaksanakan setahun sekali. Acara ini dilakukan setiap Bulan Longkang, berdasarkan hitungan almanak Jawa,  atau pada bulan Dzulqaidah yang jatuh pada Senin Kliwon.

Sekilas acara tersebut mirip dengan “perang” antar dua kelompok warga yang saling melempar cengkir atau buah kelapa muda yang telah direndam air sebelumnya. Sasaran pelemparan cengkir ini adalah pembawa ingkung (ayam panggang) yang berada diantara kedua kelompok tersebut.

Sebelum acara Ceprotan dimulai, tetua adat membacakan doa dan menyiapkan “uba rampe” atau perangkat upacara adat. Ceprotan dimulai dengan arak-arakan kelapa muda yang dibawa dari balai desa menuju lapangan tempat dilaksanakannya upacara. Kelapa-kelapa ini di bawa menggunakan keranjang bambu dan dibawa para pemuda setempat.

Setelah arak-arakan cengkir tiba di lapangan, pemuda-pemuda yang menggotong dibagi dalam dua kubu dengan arah berlawanan. Keranjang berisi kelapa muda diletakkan di depan masing masing dua kubu pemuda. Kelapa muda tersebut telah dikuliti dan direndam air selama beberapa hari agar tempurungnya melunak. Kedua kubu menempati area dengan batas jarak yang telah dibuat. Jarak yang telah diberi batas dari kedua kubu tersebut diletakkan sebuah ingkung.

Kemeriahan Ceprotan makin menarik ketika ada saatnya lemparan kelapa muda meleset dan melayang ke arah kerumunan penonton. Setiap orang yang terkena lemparan kelapa yang pecah dan airnya membasahi tubuh diyakini kelak akan mendapatkan rejeki yang berlimpah. Ceprotan sendiri berasal dari kata bunyi kelapa muda yang pecah menyemburkan air dan bersuara “ceprot”. Akhirnya, masyarakat setempat menyebut upacara ini Ceprotan.

Ceprotan merupakan acara adat yang diadakan untuk menghormati kerja keras Panji Asmorobangun atau Ki Godeg. Dalam legenda yang dipercayai masyarakat, Ki Godeg turut membangun wilayah Pacitan. Dengan kesaktiannya, Ki Godeng mampu "membabad" wilayah Desa Sekar yang awalnya hanya hutan belantara menjadi lahan pertanian.

Suatu ketika, Ki Godeg bertemu dengan dua orang wanita yang sebenarnya merupakan titisan dewi. Mereka adalah Dewi Sukonadi dan Dewi Sekartaji. Saat melewati Desa Sekar, kedua dewi ini beristirahat dan kehausan. Melihat hal itu, Ki Godeg menggunakan ilmunya untuk mencari kelapa muda hingga ke daerah yang amat jauh. Ki Godeg bahkan sampai masuk dan keluar dai tanah. Konon. lubang tempat masuk Ki Godeg ini menjadi mata air yang sekarang dikenal dengan nama Kedung Timo.

Setelah itu, Ki Godeg memberikan kelapa kepada Dewi Sekartaji. Air sisa kelapa tersebut dituangkan ke tanah dan berubah menjadi sumber mata air yang dinamai Sumber Sekar. Lalu, Dewi Sekartaji berpesan jika desa desa tersebut menjadi pemukiman, maka harus diberi nama Desa Sekar.

Dewi Sekartaji juga berpesan agar seluruh pemuda yang ingin "ngalap berkah" harus menggunakan cengkir atau kepala muda atau cengkir, seperti yang diberikan Ki Godeg. Dari legenda itulah, cengkir menjadi alat penting dalam Ceprotan. Makna cengkir sendiri dalam budaya Jawa bisa diartikan dengan "cenge-cenge pikir" atau mengandalkan daya pikir atau nalar, sesuai anjuran Dewi Sekartaji.

Dalam acara utama Ceprotan, penampilan sendratari yang mencertiakan pertemuan antara Dewi Sekartaji dan Ki Godeg selalu menarik penonton. Dalam acara ini, pemuda Desa Sekar akan menyaksikan kegigihan Ki Godeg dalam membangun Desa Sekar. Sementara aksi saling lempar adalah perwujudan makna saling bantu dalam mencari rezeki untuk kecukupan.