Bocah Rambut Gimbal, Anak-Anak Istimewa dari Dieng

Anak-anak berambut gimbal memiliki kebiasaan dan karakter yang tak biasa dibanding anak-anak lain seusianya. Dari yang tak ngompol sejak usia 1 tahun, bakat dan kecerdasan, sampai syarat yang mesti dipenuhi saat rambutnya akan dipotong.

Ruwatan rambut gimbal masih menjadi event utama Dieng Culture Festival (DCF). Tahun ini, ada 11 anak berambut gimbal yang akan mengikuti prosesi ruwatan yang akan digelar di komplek Candi Arjuna. Lalu seperti apa sih anak-anak berambut gimbal tersebut? Sekilas, perbedaan anak berambet gimbal dengan anak pada umumnya hanya pada bentuk rambut. Namun ternyata anak berambut gimbal juga memiliki kebiasaan yang istimewa.


Es Krim, Syarat Potong Rambut
Fastabihul Khoirot, adalah bocah berambut gimbal berusia enam tahun asal Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur, Banjarnegara. Anak dari pasangan Nisroni dan Risnawati ini rambutnya mulai berubah gimbal saat usia 14 bulan. Sejak  saat itu, Fasta begitu ia akrab disapa tidak lagi mengompol. Bahkan, meski masih kecil ketika buang air besar atau kecil harus tertutup dan tidak mau ditemani.

“Anehnya tidak ngompol lagi, dan kalau buang air juga harus tertutup. Terkadang kalau lagi di tempat umum, Fasta mending menahan hingga ada tempat untung buang air,” kata ayahnya, Nisroni.

Tidak hanya itu, Nisroni menuturkan anak keempatnya ini memliki kecerdasan labih dibanding saudaranya. Misalnya untuk belajar menari, Fasta hanya cukup melihat satu kali dan langsung bisa menirukan gerakan-gerakan tarian tersebut. Di sisi lain, anak berambut gimbal ini pun lebih aktif dibanding anak-anak pada umumnya.

Biasanya, anak berambut gimbal ini ditandai dengan suhu panas hingga 40 derajat celsius. Saat dibawa ke dokter, Fasta tidak menderita penyakit apapun. "Panas sembuh lagi. Biasanya tiga hari sembuh kemudian satu minggu panas lagi, ternyata mau tumbuh rambut gimbal. Kondisi ini terus berlanjut sampai seluruh rambutnya gimbal,” tuturnya.

Saat akan diruwat atau dicukur rambutnya, anak berambut gimbal juga mempunyai permintaan khusus. Dalam hal ini, Fasta meminta dibelikan satu ekor kuda dan es krim. Namun, tahun ini buah hatinya ini masih enggan dicukur. “Tahun ini hanya ada dua rambut gimbal yang akan dicukur. Istilahnya rambut sungu atau tanduk yang akan dicukur. Kalau dicukur semuanya belum mau,” kata dia.


Gimbal Pari
Jenis rambut gimbal pada Fasta adalah gimbal pari. Yakni gimbal menyeluruh dan bentuk gimbalnya kecil-kecil. Hal ini berbeda dengan anak gimbal lainnya yakni Kayang Ayunintyas Nugroho. Bocah yang genap berusia 5 tahun pada 15 Agustus 2019 nanti ini berambut gimbal hanya di bagian belakang.

Seperti anak berambut gimbal lainnya, ditemui di rumahnya di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara Kayang juga cenderung lebih aktif dibanding anak pada umumnya. Untuk tanda-tandanya pun sama, yakni mengalami panas tinggi yang tak kunjung sembuh. “Panas tinggi dulu saat kecil. Sampai akhirnya ada yang menyampaikan kepada saya kalau rambut gimbalnya jangan sembarangan dipotong,” kata ibundanya Kayang, Sugiarsih.

Bahkan saat buah hatinya berusia sekitar 1 tahun, ia sering memberi minyak rambut. Harapannya agar rambut anaknya tidak gimbal seperti anak pada umumnya. Sayangnya, usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Karena sore harinya, rambut Kayang di bagian belakang kembali gimbal. “Dulu pas kami belum tau, pagi hari dikasih minyak rambut, tapi sore harinya sudah gimbal lagi,” terangnya. Kayang adalah salah satu anak berambut gimbal yang akan diruwat pada DCF 2019. Saat diruwat, ia meminta dua es krim contong, dan mainan Snoopy.


Foto: Uje Hartono