Tari Likurai Jadi Pembuka Upacara Kemerdekaan RI-74

Awalnya, tarian ini ditampilkan untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Ditarikan oleh lebih dari 10 pria dan wanita, tanpa iringan musik. Tarian ini membuat decak kagum saat tampil sebagai pembuka di upacara Kemerdekaan RI-74.

Konon, pada zaman dahulu di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur terdapat tradisi memenggal kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaannya. Nah, untuk merayakan kemenangan para pahlawan tersebut, biasanya ditampilkan Tari Likurai sebagai tarian penyambutan.

Namun setelah era kemerdekaan, tradisi penggal kepala tersebut dihapuskan. Walaupun begitu, Tari Likurai masih dipertahankan oleh masyarakat Belu dan masih kerap ditampilkan untuk upacara adat, penyambutan tamu penting, bahkan pertunjukan seni dan budaya.

Tarian ini merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat akan kemenangan yang mereka dapatkan dan kembalinya pahlawan dengan selamat. Hal inilah yang juga terasa saat Tari Likurai tampil di upacara Kemerdekaan RI-74.

Tanpa Musik Pengiring

Tari Likurai merupakan suguhan utama festival tahunan di Nusa Tenggara Timur, Festival Fulan Fehan. Dalam pertunjukannya, Tari Likurai ditampilkan oleh para penari wanita dan penari pria. Jumlah penari biasanya terdiri dari 10 orang atau lebih penari wanita dan dua orang penari pria. Dalam Tari Likurai ini penari wanita menggunakan pakaian adat wanita dan membawa Tihar (kendang kecil)untuk menari. Sedangkan penari pria juga menggunakan pakaian adat pria dan membawa pedang sebagai atribut menarinya.

Dalam Tari Likurai ini gerakan penari pria dan penari wanita berbeda. Gerakan penari wanita biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan kendang dengan cepat dan gerakan kaki menghentak secara bergantian. Selain itu penari juga menari dengan gerakan tubuh yang melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan sesuai irama. Gerakan penari wanita ini cukup sulit, selain harus bergerak menari penari juga harus berkonsentrasi memainkan kendang dan menjaga agar irama yang dimainkan tetap sama dengan penari lainnya.

Sedangkan gerakan penari pria biasanya didominasi oleh gerakan tangan memainkan pedang dan gerakan kaki menghentak sesuai irama. Selain itu, penari pria juga sering melakukan gerakan seperti merunduk dan berputar-putar sambil memainkan pedang mereka. Gerakan penari pria ini juga cukup sulit karena selain menari, penari juga harus menyesuaikan hentakan kakinya dengan irama musik.

Saat pertunjukan, Tari Likurai biasanya tidak menggunakan musik pengiring apapun. Suara musik yang digunakan biasanya berasal dari suara kendang kecil yang dimainkan oleh penari wanita dan suara giring-giring yang dipasang di kaki penari. Selain itu suara teriakan para penari pria yang khas juga membuat tarian ini semakin meriah dan kesan tarian perang juga sangat terasa.