Tujuh Destinasi Dalam 12 Jam di Bukittinggi

Walau bukan kota besar, namun Bukittinggi dipenuhi dengan banyak destinasi menarik, terutama alam dan sejarahnya.

Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, Bukittinggi ternyata hanyalah sebuah kota kecil. Luas wilayahnya tidak sampai 30 km persegi. Tapi justru inilah letak keunikannya. Tempat wisata berdekatan satu sama lain, sehingga tidak butuh waktu lama untuk bisa mengeksplorasi segala keindahan alam dan budayanya.

Untuk mengawali hari, kita bisa mulai dengan mengunjungi Benteng de Kock yang berada kurang dari satu kilometer dari jam gadang. Benteng yang tidak terlalu besar ini dibangun pada 1837 untuk menjadi tempat pertahanan dan pengawasan Belanda terhadap serangan warga pribumi.

Selepas menyusuri benteng de Kock, kita bisa bergeser ke kebun binatang Bukittinggi untuk menikmati suasana lain kota ini. Jarak dari benteng tidak jauh, apalagi saat ini sudah ada jembatan Limpapeh yang menjadi jalan pintas dari benteng menuju kebun binatang.

Bosan berkeliling kebun binatang? Mari lanjutkan perjalanan ke Ngarai Sianok yang terkenal itu. Letak Ngarai Sianok dari kebun binatang juga tidak sampai 5 km. Pengunjung hanya wajib membayar Rp20.000 untuk bisa masuk ke tempat wisata ini.

Jangan lewatkan untuk berswafoto ria di dalam area tempat wisata karena banyak titik foto yang instagramable. Jika Sobat Pesona ingin tahu soal sejarah dan asal muasal terbentuknya ngarai yang fenomenal ini, Sobat Pesona bisa menggunakan jasa pemandu resmi yang siap menjelaskan secara detil hingga kita puas.

Mumpung masih di dalam lokasi ngarai, jangan lupakan untuk masuk ke Lubang Jepang yang berada di dalam kompleks wisata Sianok. Berbeda dengan suasana ngarai yang sejuk dan penuh warna, suasana di Lubang Jepang justru gelap, pengap, dan membuat bulu kuduk bergetas.

Lubang ini merupakan saksi bisu penderitaan rakyat pribumi yang disekap oleh Jepang di dekade 1940-an. Di sini kita bisa menemukan tempat penimbunan logistik, penyekapan, hingga tempat pembuangan mayat para tahanan.

Ingat, di dalam Lubang banyak lorong-lorong gelap. Ikuti saja penunjuk arah yang sudah disediakan pengelola. Kita akan dibawa hingga lorong keluar Lubang yang berada di sisi bawah dari Ngarai Sianok.

Jika kita menggunakan jasa supir, ingatkan untuk menjemput di pintu keluar Lubang. Jika tidak, siap-siap menyusuri jalan menanjak untuk kembali ke pintu masuk Ngarai Sianok.

Menyusuri empat destinasi di Bukittinggi hingga tengah hari membuat perut kita keroncongan. Jika mencari kuliner yang benar-benar khas masyarakat Minang, datang saja ke Los Lambuang yang berada di Pasar Atas, atau Pasar Ateh masyarakat menyebutnya.

Pusat jajan ini menyediakan beragam hidangan khas Minang, seperti Katupek Gulai, Katupek Pitalah, dan yang pasti adalah Nasi Kapau. Soal rasa jangan ditanya, hidangan di sini benar-benar membuat ketagihan, apalagi harganya juga sangat terjangkau.

Setelah perut terisi penuh, langsung saja tancap gas ke kawasan Lembah Taruko, atau masyarakat sekitar menyebutnya Lembah Takapuang. Lembah ini merupakan titik paling bawah dari Ngarai Sianok yang kita singgahi sebelumnya. Sungguh menakjubkan!

Menjejakkan kaki di tempat ini menjadi sia-sia jika kita tidak menjajal segarnya air di sungai Taruko dengan membaringkan tubuh di tengah sungai. Tenang saja, arusnya tidak deras, dalamnya pun hanya 10-15 cm. Yang penting siapkan pakaian ganti agar tidak masuk angin.

Setelah puas bermain air, segera jelajahi lembah ini hingga kita naik ke sebuah bukit yang berada di paling ujung Lembah Taruko. Di salah satu sisi bukit yang memiliki tinggi lebih dari 100 meter itu telah tersedia sebuah pondok sederhana tempat untuk bersantai sambil melepas lelah.

Pondok tersebut juga menjadi titik pandang untuk menikmati seluruh kawasan lembah dan bukit tanpa terhalang apapun. Jangan lupa juga untuk mengabadikan momen yang belum tentu terulang untuk kedua kalinya dalam hidup kita.

Oh ya, satu hal yang harus diingat saat berkunjung ke Lembah Taruko adalah kita diharapkan keluar dari kawasan lembah itu paling telat saat maghrib. Tidak ada larangan tertulis memang. Namun, warga sekitar masih sangat menjaga adat mereka secara ketat.

Setelah keluar dari Lembah Taruko, singgah sebentar ke rumah kelahiran Bung Hatta yang ada di Jalan Soekarno-Hatta, Kecamatan Mandiangin, Bukittinggi. Jangan lupa juga untuk mampir sebentar membeli oleh-oleh keripik singkong khas Bukittinggi di kawasan Sanjai.

Saat malam tiba, akhiri segala aktivitas jalan-jalan kita di Bukittinggi dengan mengunjungi Jam Gadang yang menjadi ikon utama Kota Bukittinggi. Jam Gadang saat ini sudah sangat bersih dan tertata rapi.

Jika ingin makan pilihannya pun beragam. Mau makanan modern, cepat saji, atau tetap setia dengan sajian khas Minang, semua tersedia lengkap tak jauh dari Jam Gadang.

Bersantai di pinggir Jam Gadang, mengisi perut sebelum tidur, dan akhirnya kembali ke peraduan. Indah memang hidup di Bukittinggi.


Foto: Remigius Septian