Wisata Tempo Dulu di Seputaran Alun-alun Malang

Banyak bangunan tempo dulu di seputaran alun-alun Kota Bunga. Menikmatinya dengan berjalan kaki dan membaca sejarahnya lewat plang di trotoar. Rasanya seperti jalan-jalan ke Malang di Abad 18-an.

Pada 30-31 Agustus nanti, di kota Malang akan digelar festival tempo dulu bertajuk Oeklam Oeklam Heritage nan Kajoetangan. Ini adalah festival dengan tema heritage yang berlokasi di kawasan Kayutangan yang khas dengan arsitektur rumah-rumah tempo dulunya. Acara tersebut akan diisi dengan beragam acara bergaya klasik dan festival kuliner tempo dulu.

Ngobrolin soal “tempo dulu”, Malang memang surganya bangunan klasik. Tak jauh dari Kayutangan, kita bisa menemukan alun-alun kota. Alun-alun asri ini biasa digunakan warga Malang untuk berolahraga, membuat aktivitas, hingga hanya sekadar bersantai. Alun-alun ini tak pernah sepi dari pagi hingga malam.


Jalan-Jalan ke Malang di Abad 18
Banyak bangunan tua di seputaran alun-alun kita bisa amati dari dalam atau pun luar. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengetahui sejarah dari setiap bangunan klasik yang ada di sana lewat plang informasi di depan bangunan. Misalnya, ketika kita melewati bangunan Bank Indonesia, kita bisa mengetahui informasi bahwa bangunan ini yang dulunya adalah Javasche Bank.

Dirancang oleh biro arsitek Hulswit, Fermont & Ed Cuypers dari Batavia pada tahun 1915.  Dibangun hampir bersamaan dengan bangunan-bangunan gedung yang lain di sekitar alun-alun seperti Palace Hotel (Hotel Pelangi). Di samping Bank Indonesia ada pertokoan Sarinah. Pertokoan yang berada di Jalan Basuki Rahmar 2A ini dulunya adalah rumah dinas Raden Panji Wielasmorokoesoemo yang pada 1820-an menjadi Bupati Malang dan Ngantang.

Informasi dalam documentary board ini juga diletakkan di beberapa bangunan tempo dulu lainnya, seperti Mesjid Jami Kota Malang, Kantor Kas Negara, Gereja Kayutangan, hingga Gereja GPIB Imannuel. Gereja ini  berdiri sejak tahun 1861 dan membuatnya menjadi gereja tertua di Malang. GPIB Immanuel dulunya bernama Protestanche Gemente te Malang.

Jangan lupa juga mampir ke Toko Oen, restoran jadul yang berada sejajar dengan Gereja Imannuel dan di seberang Gereja Kayu Tangan, gereja yang memiliki arsitektur yang sangat khas dan bergaya gothik. Di Toko Oen kita bisa mencicipi kue dan es krimnya yang masih  menggunakan resep turun-temurun dari generasi ke generasi. Rasanya yang cenderung old fashioned menciptakan sensasi tersendiri.

Kita juga bisa berswafoto di bangunan restoran bergaya art deco ini. ada sebuah spanduk berbahasa Belanda bertuliskan “Welkom in Malang Toko OEN” die Sinds 1930 Aan de Gasten Gezelligheid Geeft.” Di sekeliling, kita bisa melihat barisan bangku klasik berwarna pastel dengan bentuk kursi yang nyaman. Wisata klasik seputaran alun-alun malang ini cocok buat Sobat Pesona yang punya waktu sedikit saat berkunjung ke Malang.


Foto : Yul Kusuma