5 Rumah Jadul di Kampung Heritage Kayutangan

Kunjungi rumah-rumah jadul di Kampung Heritage Kayutangan, Malang. Baca sejarahnya lanjutkan dengan berfoto di depannya. Asyik!

Mengapa kawasan Kayutangan di Malang kini semakin popular? Alasannya karena di kawasan Kayutangan sendiri memiliki banyak bangunan kuno zaman kolonial. Saat menyusuri kampung heritage kayutangan, pengunjung bebas berfoto di luar maupun dalam rumah warga. Itulah yang membuat kawasan heritage ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Karenanya, sebuah gelaran meriah diadakan di Kayutangan akhir Agustus ini. Pada 30-31 Agustus nanti, di kota Malang akan digelar festival tempo dulu bertajuk Oeklam Oeklam Heritage nan Kajoetangan. Ini adalah festival dengan tema heritage yang berlokasi di kawasan Kayutangan yang khas dengan arsitektur rumah-rumah tempo dulunya. Acara tersebut akan diisi dengan beragam acara bergaya klasik dan festival kuliner tempo dulu.

Jika berkunjung ke sana, Sobat Pesona wajib mengunjungi beberapa rumah jadul di kamung heritage ini. Tidak hanya membaca sejarahnya yang terpampang di plang depan rumah, tapi juga bisa berkunjung ke dalam atau berfoto di depan rumah untuk kemudian di-posting di akun Instagram. Inilah beberapa spot rumah klasik yang wajib dikunjungi.


Rumah 1870
Rumah 1870 ini dibangun oleh generasi pertama keluarga bernama Nur Wasil dengan ukuran 8x11 meter dengan atas berbentuk perisai, dengan interior yang terdiri dari ruang bawah dan loteng. Salah satu yang menjadi titik perhatian menarik di rumah ini adalah elemen klasik di depan rumah yang bergaya klasik.


Rumah Jengki
Rumah ini dibangun pada tahun 1960 dan pemilik pertamanya adalah Hendarto. Bangunan berukuran 160 meter ini awalnya hanya berdinding bambu. Pada tahun 1968 direnovasi pemiliknya yang kedua yakni keluarga HSM Ali. Bangunanya berarsitektur campuran Belanda dan Nusantara, atapnya khas membentuk sudut asimetris.


Rumah Mbah Ndut
Rumah ini memiliki gaya arsitektur Belanda dengan atap pelana yang berdiri sejak tahun 1932. Bangunan berlantai tegel ini merupakan tempat tinggal Pak Subur dan pertama kali ditinggali keluarganya yakni Mardikyah. Bangunan ini menurut Pak Subur tidak berubah, masih berpintu dan berjendela kupu-kupu.


Rumah Rindu
Rumah berukuran 78 meter ini awalnya adalah home industri bakiak modern. Bakiak bermerek Sandal Rindu memang cukup terkenal. Bakiak dari kayu dengan ukiran bertuliskan Rindu itu diproduksi di bangunan dengan pintu berwarna hijau dan berada di samping sungai kecil itu. Bangunan ini telah direnovasi tahun 1960 oleh pemilik pertama, H. Nur Rochim.


Rumah Namsin
Bangunan berarsitektur Belanda dengan pintu warna cokelat ini diperkirakan berdiri pada tahun 1900-an. Awalnya bangunan ini digunakan untuk bengkel mobil. Namun pada tahun 1950-an rumah ini dibeli oleh keluarga Namsin dan digunakan untuk membuat es lilin. Meski begitu, keluarga Namsin tidak merubah sejarah bangunan ini sama sekali. Di dalam bangunan itu masih utuh onderdil dan kwitansi bengkel mobil.


Foto: Yul Kusuma