Hutan Purba Permatan, Kesejukan Pohon 3,5 Abad di Lombok Timur

Pohon setinggi sekitar 40-50 meter, lingkar batang bawah sebesar pelukan 3-4 lengan orang dewasa, dan ukuran akarnya mencapai 170 cm. Pohon yang bernama latin Ficus albipila ini disebut dengan pohon lian oleh masyarakat hidup di Hutan Purba Permatan, NTB.

Di Dusun Permatan, sekitar 75 km ke arah timur Kota Mataram terdapat sebuah hutan purba dengan luas 1,5 hektar. Hutan ini berisi pohon-pohon purba setinggi 40-50 m, dan menjadi tempat tumbuh kembangnya koloni lebah serta buahnya menjadi makanan burung dara hutan.

Masyarakat Permatan menyebut pohon purba ini pohon lian, karena tidak ada di tempat lainnya di Indonesia. Mereka menyakini bahwa pohon ini hanya tumbuh di Australia, Afrika, dan Dusun Permatan. Pepohonan ini tumbuh di lahan seluas 4 hektar yang dimiliki oleh empat orang, tetapi hanya 1,5 hektar saja yang dikembangkan menjadi destinasi wisata. Setidaknya, ada 40 pohon di area tersebut, baik yang masih hidup maupun yang sudah tumbang dimakan usia atau cuaca.


Berkat Ombak Tsunami
Selain tinggi menjulang, pohon purba ini mempunyai akar sepanjang 170 cm dan lingkar batang bawahnya sebesar pelukan tiga hingga empat orang dewasa. Batang pohonnya mirip dengan pohon randu, tetapi lebih licin sehingga sulit untuk dipanjat. Masyarakat setempat memperkirakan pohon-pohon purba ini berusia lebih dari seratus tahun.

Ada beberapa cerita yang menjelaskan bagaimana pohon raksasa ini bisa tumbuh di daratan Pulau Lombok. Menurut teori migrasi burung, ada yang mengatakan bahwa biji-biji pohon tersebut dibawa burung yang terbang dari benua lain. Teori lainnya mengatakan biji-biji pohon raksasa ini hanyut akibat ombak tsunami di perairan Australia ratusan tahun silam hingga terbawa sampai ke Lombok.

Sebelumnya, lokasi pohon purba merupakan area hutan tutupan. Sekitar 1970, lokasi hutan ini sempat dijadikan tempat budidaya kapas. Kemudian, pada 1982, lokasi ini dialihkan untuk kegiatan tanaman perkebunan hingga diserahkan kepemilikannya kepada perseorangan. Kemudian pada 2014, pihak pengelola mulai mengembangkannya dengan serius menjadi objek wisata.

Akses menuju lokasi hutan purba ini cukup mudah karena persis di pinggir jalan raya ketika menuju Gili Kondo, Gili Bidara, Gili Kapal, dan Gili Petagan. Biaya yang dikeluarkan untuk masuk ke area hutan purba ini pun cukup murah, yaitu Rp5.000 untuk sepeda motor, dan Rp10.000 untuk mobil.


Foto: Satwikanti Maeswari, Dwi Harianti