Menggali Sejarah Pelaut Nusantara di Museum Bahari

Bangunan bersejarah yang didirikan sekitar tahun 1652. Selain dipergunakan untuk penyimpanan rempah-rempah, museum ini dahulu juga dipergunakan untuk menyimpan komoditas lainnya seperti tembaga, tekstil, maupun timah.

Museum Bahari merupakan salah satu tujuan yang wajib didatangi saat berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta. Di museum ini banyak menyimpan benda bersejarah yang berhubungan dengan sejarah kelautan atau bahari yang ada di Indonesia. Museum Bahari merupakan salah satu bangunan yang telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Bangunan ini dibangun di masa penjajahan VOC, dan pada awalnya digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan rempah-rempah yang dibeli dari penduduk pribumi.

Bangunan bersejarah ini didirikan sekitar tahun 1652 dengan pembangunan bertahap. Selain dipergunakan untuk penyimpanan rempah-rempah, museum ini dahulu juga dipergunakan untuk menyimpan komoditas lainnya seperti tembaga, tekstil, maupun timah. Ketika Jepang menduduki Indonesia, museum ini dipergunakan sebagai tempat penyimpanan logistik berupa senjata dan bahan makanan untuk bekal pertempuran. Bangunan ini memang cukup besar dan kokoh, sehingga sangat mendukung fungsinya sebagai tempat penyimpanan.

Di awal kemerdekaan, bangunan ini masih dipergunakan untuk gudang dan baru diresmikan sebagai Museum Bahari pada  tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta. Setelah ditetapkan menjadi museum, bangunan ini lantas dilengkapi dengan bermacam replika yang berkaitan dengan sejarah kebaharian di Nusantara.

                                       
Fasilitas Museum Bahari
Banyak hal yang bisa didapat dengan mengunjungi Museum Bahari. Di sini kita bisa mengenal sejarah kelautan dan Indonesia. Berbagai perahu asli yang masih sangat tradisional bisa ditemukan di sini, selain juga beberapa miniatur kapal pedagang Nusantara di masa lalu. Tak ketinggalan foto-foto bersejarah juga dipajang pada dinding Museum Bahari.

Lewat bangunannya, kita juga bisa mereka-reka bagaimana perdagangan rempah-rempah Nusantara berlangsung sejak zaman penjajahan. Itu sebabnya, hingga kini Museum Bahari tak pernah sepi dari pengunjung baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Bahkan yang paling banyak adalah pengunjung dari Belanda.


Tiket Masuk Museum
Museum Bahari dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda empat dengan tempat parkir yang cukup memadai. Selain itu juga tersedia bus pariwisata yang mencapai museum ini. Oh ya, pengunjung tidak diperkenankan membawa barang yang cukup besar. Barang yang terlalu besar dapat dititipkan di tempat penitipan yang disediakan. Jika memerlukan pemotretan dengan menggunakan alat yang profesional, sebelumnya dapat menghubungi petugas museum sehingga segala keperluan dapat disesuaikan.

Di sekitar museum juga tersedia kantin yang dapat digunakan untuk menikmati hidangan sambil santai. Untuk kamu yang hobi mengoleksi souvenir, terdapat toko yang menjual berbagai souvenir khas Museum Bahari.

Untuk masuk ke dalam Museum Bahari, pengunjung cukup membayar Rp10.000. Harga tiket ini akan lebih murah lagi jika kita datang berombongan. Harga yang ditampilkan tersebut hanya untuk tiket masuk ke bangunan museum saja.

Jika menggunakan pemandu, maka akan dikenakan biaya tambahan. Tapi jangan khawatir karena jasa pemandu juga tidak akan menguras kantong kok. Jadi mari kenali sejarah nenek moyang kita di Museum Bahari.


Foto : Jaka Thariq