Desa Tenun Sukarara, Destinasi untuk Mengenal Tenun dan Songket Lombok

Keindahan tidak tercipta dari satu warna, melainkan dari rangkaian beberapa warna. Warna-warna dirajut dengan keteraturan, membentuk motif-motif khas. Keindahan itu tampak dari kain-kain tenun yang dibuat oleh masyarakat di Desa Sukarara.

Desa Sukarara merupakan sebuah desa yang sudah menjadi ikon budaya di Pulau Lombok dalam hal tenun-menenun. Desa tersebut terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sukarara dapat dicapai dari Mataram dengan jarak 25 km. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit perjalanan darat.

Desa Sukarara terkenal akan hasil tenun dan songketnya. Hasil kainnya telah tersebar hingga ke mancanegara. Hal itu karena kain yang dihasilkan masyarakat Sukarara memiliki kualitas tinggi. Salah satunya tampak dari warna kain yang tidak mudah luntur. Warna kain didapat dari pewarna alami. Contohnya, warna coklat-kemerahan dari pohon mahoni, coklat muda dari batang jati, coklat tanah dari biji asam, coklat tua dari batang pisang busuk, dan warna ungu dari kulit manggis dan anggur.


Benang Sutra Emas
Menenun adalah adat-istiadat masyarakat Desa Sukarar, turun-menurun dari generasi ke generasi. Para penenun umumnya perempuan. Mereka dilatih sejak masih kecil karena kemahiran menenun adalah syarat wajib menikah. Perempuan yang tidak dapat menenun tidak diperbolehkan menikah. Di bagian depan rumah, mereka biasanya duduk bersama-sama di hadapan alat tenun masing-masing.

Kualitas kain tidak perlu diragukan. Selain warna, hal yang membuat tenunan masyarakat Desa Sukarara berkualitas tinggi adalah benangnya. Mereka menggunakan benang katun, sutra, sutra emas, dan sutra perak sehingga kain yang dihasilkan terasa halus dan nyaman untuk digunakan. Kain tenun Desa Sukarara memiliki motif yang khas. Kekhasan itu digambarkan dengan motif rumah adat, lumbung, dan tokek. Selain itu, terdapat motif lainnya, seperti cungklik dan keker.

Harga kain yang ditawarkan bervariasi. Kain selendang memiliki harga mulai Rp25.000. Sementara itu, harga baju dari kain tenun dapat mencapai Rp3.000.000. Namun, Sobat Pesona tidak perlu khawatir karena harga tersebut sebanding dengan proses pembuatan dan kualitas kain.

Selain menikmati hasil kain, Sobat Pesona juga dapat melihat-lihat rumah tradisional Suku Sasak. Rumah tradisional di sana masih terjaga dengan sangat baik. Para pengunjung biasanya menjadikan rumah tersebut sebagai latar berfoto. Sangat menarik, bukan?


Foto: Rian, Eddy Nursantio