Perjalanan Mendebarkan di Jalur Cantik Kereta Ambarawa

Jalur kereta Ambarawa-Secang berada di kontur tanah berbukit yang indah, namun medannya cukup berat. Pemerintah kolonial Belanda membangun sistem kereta api dengan rel bergerigi untuk menjaga agar kereta dapat tetap berjalan dengan lancar. Menyusuri jalur klasik ini, sungguh perjalanan nostalgia yang istimewa.

Kereta Ambarawa dahulu pernah berjaya pada masa penjajahan Belanda. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Willem I, menjadikan stasiun kereta api Ambarawa memiliki nama Stasiun Willem I. Nama Willem I juga digunakan untuk nama benteng yang terletak berdekatan dengan stasiun Ambarawa.  Stasiun Ambarawa dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda untuk memperlancar mobilitas tentara KNIL serta pengiriman logistik antar wilayah. Pada masa itu, Stasiun Ambarawa termasuk dalam stasiun kereta api kelas 1. Kereta Ambarawa ini merupakan kereta api uap dengan bahan bakar kayu jati.

Kereta api dari Semarang menuju Yogyakarta atau sebaliknya akan melewati Stasiun Ambarawa. Jalur kereta menuju ke Stasiun Ambarawa dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan pembukaan jalur kereta dari arah Semarang menuju Ambarawa, yaitu menghubungkan jalur Kedungjati sampai dengan Ambarawa. Sementara tahap dua yaitu, pembangunan jalur dari arah Magelang sampai dengan Ambarawa, lebih tepatnya dari Stasiun Secang sampai dengan Stasiun Ambarawa. Stasiun Ambarawa merupakan titik pertemuan kereta api dari jalur Kedungjati dan Secang.

Stasiun Ambarawa terletak di pusat kota tepatnya di desa Panjang, kecamatan Ambarawa. Ambarawa merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Terletak di pegunungan dengan  ketinggian sekitar 475 meter di atas permukaan air laut membuat Ambarawa memiliki udara yang sejuk.


Keunikan Kereta Api Ambarawa
Jalur kereta Ambarawa-Secang berada di kontur tanah berbukit, sehingga pemerintah kolonial Belanda membangun sistem kereta api dengan rel bergerigi untuk menjaga agar kereta dapat tetap berjalan dengan lancar. Perjalanan kereta dari Ambarawa menuju Secang melewati medan  yang cukup berat sejak stasiun Jambu menuju ke stasiun Bedono.

Banyaknya tanjakan di sepanjang jalur itu, membuat perjalanan kereta Ambarawa harus berhenti sejenak di stasiun Jambu untuk memindahkan posisi lokomotif. Apabila pada umumnya lokomotif kereta api berada di depan dan menarik semua gerbong di belakangnya, tidak demikian yang terjadi dengan kereta api Ambarawa ketika akan menuju ke stasiun Bedono.

Saat berhenti di stasiun Jambu, lokomotif kereta akan diputar sehingga posisinya ada di deretan paling belakang. Lokomotif ini tidak lagi menarik gerbong-gerbong di belakangnya, namun justru mendorong gerbong karena posisi lokomotif yang ada di belakang.  Ketika tiba di stasiun Bedono, lokomotif akan diputar kembali ke posisi awal, yaitu di depan gerbong kereta.


Museum Kereta Api Ambarawa
Setelah masa kemerdekaan, pengelolaan kereta api diambil-alih oleh pemerintah Republik Indonesia di bawah Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Pada tahun 1975, PJKA menutup rute kereta api jalur Yogyakarta-Magelang-Secang dikarenakan akses jalan yang tertutup akibat erupsi gunung Merapi. Penutupan rute tersebut berimbas pada kereta api dari jalur Ambarawa menuju Secang yang akhirnya ikut ditutup.

Sejak tahun 1970-an, banyak lokomotif yang sudah tidak dioperasikan karena faktor usia. Pada tanggal 6 April 1976, Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah kala itu, beserta Kepala PJKA Eksploitasi Tengah, Soeharso, berinisiatif untuk menjadikan stasiun Ambarawa sebagai museum kereta api. Museum kereta api tersebut direncanakan untuk mengoleksi barang-barang antik pada zaman kereta api uap.

Saat ini, museum kereta api Ambarawa menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Beragam koleksi lokomotif pada zaman pemerintahan Belanda dapat dijumpai di stasiun ini. Museum kereta api Ambarawa merupakan museum kereta api pertama yang ada di Indonesia.

Museum kereta api Ambarawa juga menyediakan informasi dan wisata edukasi seputar sejarah perkeretaapian di Indonesia. Pengunjung dapat menikmati rute perjalanan kereta api wisata dari stasiun Ambarawa sampai dengan stasiun Tuntang. Jika ingin menikmati kereta api uap jalur Ambarawa-Bedono, pengunjung harus melakukan pemesanan jauh-jauh hari dengan sistem carter kereta. Penumpang kereta api jalur Ambarawa-Bedono akan disuguhi pemandangan alam yang memanjakan mata.

Jadi sambil menggali sejarah perkeretaapian di Indonesia, di sini kita dapat memanfaatkan spot-spot cantik untuk foto yang ciamik. Museum kereta api Ambarawa sangat mudah untuk diakses baik dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun dengan angkutan umum karena letaknya yang dekat dengan terminal Ambarawa. Jadi jangan ditunda lagi!


Foto : Jaka Thariq