5 Tradisi Perkawinan Tapanuli Selatan

Dominasi suku Batak membuat budaya di Tapanuli Selatan mempunyai ciri khas tersendiri. Tetapi, sebagian besar masyarakat Tapanuli Selatan beragama Islam sehingga nuansa keislaman sangat terasa, termasuk pada adat pernikahan.

Budaya Indonesia yang telah ada sejak jaman nenek moyang tersebut sebagian besar masih dilestarikan hingga kini. Salah satu budaya yang masih lestari itu ada  di daerah Tapanuli Selatan. Tapanuli Selatan di Kabupaten Sumatera Utara merupakan wilayah yang cukup luas. Ibu kota Tapanuli Selatan, yaitu Sipirok berbatasan dengan Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah. Tapanuli Selatan dikelilingi bukit-bukit yang merupakan bagian dari Bukit Barisan.

Budaya Tapanuli Selatan banyak dipengaruhi dan didominasi oleh Suku Batak. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani dan berkebun. Kopi, kakao, karet, kelapa, dan kemiri menjadi komoditi utama dari Tapanuli Selatan. Dominasi suku Batak membuat budaya di Tapanuli Selatan mempunyai ciri khas tersendiri. Tetapi, sebagian besar masyarakat Tapanuli Selatan beragama Islam sehingga nuansa keislaman sangat terasa. Saat acara pernikahan atau prosesi adat lainnya akan sangat terasa nilai yang terkandung dalam agama Islam.


Mangaririt Boru dan Manulak Sere
Adat ini wajib dilakukan dalam memilih pasangan hidup sebelum dilakukan acara pernikahan. Pihak keluarga lelaki menyelidiki asal usul gadis yang akan dilamar agar tidak keliru memilih pasangan hidup. Setelah dipastikan belum ada yang melamar kemudian dilakukan pertemuan dan musyawarah. Dalam musyawarah itu dibahas waktu melamar, jumlah mas kawin dan hantaran lamaran.


Mangalehan Mangan
Sebelum menuju ke acara pernikahan, maka orang tua dari pihak perempuan wajib menggelar acara untuk melepas putrinya dengan memberikan suapan. Tradisi ini sebagai simbol pengasuhan terakhir dari orang tua kepada putrinya yang akan menjadi mempelai pengantin. Acara ini hanya dilakukan oleh pihak mempelai perempuan saja.


Mangalap Boru
Pihak mempelai lelaki beserta keluarganya datang ke kediaman mempelai perempuan yang dipimpin oleh ketua adat. Mas kawin beserta hantaran lamaran dibawa untuk diserahkan kepada pihak mempelai perempuan. Rombongan mempelai laki-laki melakukan acara ketuk pintu dengan mengucapkan salam. Setelah diterima barulah dilakukan acara yang sakral, yaitu ijab kabul. Pakaian adat baru dipakai setelah acara ijab kabul selesai dan kedua pasangan sah menjadi suami istri.


Mangolat Boru
Orang tua mempelai perempuan menyerahkan putrinya untuk dibawa oleh suaminya. Namun, ketika akan keluar dari pintu rumah akan dihadang oleh sepupu mempelai perempuan untuk meminta sogokan berupa uang. Acara ini biasanya akan mengundang gelak tawa dan hanya menjadi simbol belaka. Kedua mempelai meminum air kelapa dari sepupu agar selama perjalanan tidak kehausan.


Gondang
Mempelai perempuan yang telah tiba di rumah mempelai pr akan disambut oleh tarian Tor-Tor. Pengantin perempuan diharuskan menginjak tumbuhan bersifat dingin seperti batang pisang sebelum memasuki pintu rumah. Untuk melepaskan dahaga selama perjalanan yang jauh, diberikan air toli-toli yang segera diminum kedua mempelai.

Tidak hanya acara perkawinan saja yang masih dilestarikan sampai saat ini. Masih ada acara-acara adat Tapanuli Selatan yang masih lestari hingga kini. Umumnya upacara adat di Tapanuli Selatan dimulai sejak di masa mengandung, melahirkan, menyapih, pengobatan penyakit, mencegah malapetaka, dan upacara kematian.  Masyarakat Tapanuli Selatan setia menjaga adat istiadat yang menjadi kekayaan budaya Nusantara ini, meski sudah berada di zaman yang serba modern.


Foto : Jaka Thoriq