Nasi Uduk dan Ulam Asli H. Yoyo, Lezat Sejak 1952

Kuliner legendaris Jakarta ini punya ciri khas menu empal ikat. Daging empalnya yang empuk diikat dengan tali dari gedebog atau batang pohon pisang kering. Nasi uduknya, dibumbui santan dan rempah yang gurih.

Nasi uduk dan ulam adalah makanan yang sudah sohor di Indonesia.  Apalagi di Jakarta, makanan ini jadi sarapan warganya ketika pagi hari. Namun mencari nasi uduk dan ulam Betawi yang benar-benar autentik tentu tak mudah. Salah satu yang masih menjaga resep makanan Betawi dengan rasa yang asli adalah nasi ulam dan uduk H. Yoyo.

Nasi ulam dan uduk H. Yoyo ini sehari-hari dapat ditemui di Karet Pedurenan, gang Dogol, Setiabudi, Jakarta Selatan. Selain membuka gerai di Karet Pedurenan, nasi ulam dan uduk H. Yoyo bisa didatangi di ajang Jakarta Fashion & Food Festival yang berlangsung pada 7 Agustus - 8 September 2019.


Nasi Uduk Bumbu Rempah
Andi adalah salah satu cucu dari H. Yoyo yang masih meneruskan usaha berjualan nasi ulam dan uduknya. Menurut Andi, nasi ulam yang dijualnya ini memakai nasi putih dengan taburan serundeng (campuran kelapa dan rempah), irisan mentimun, daun kemangi, kecambah kacang hijau, dan krupuk.

Sedangkan, nasi uduk Betawi yang merupakan resep turun temurun ini, bukan sekadar pakai santan saja, tapi didukung pemakaian rempah-rempah yang kuat dari sisi rasa. Makan nasi uduk H. Yoyo, walau hanya pakai bawang goreng saja, kita bakal mendapati rasa gurih dan rempah yang berkarakter.

Nasi ulam dan uduk H. Yoyo yang sudah ada sejak 1952 ini punya ciri khas pada menu yang disajikan. Salah satunya memakai empal ikat. Empal daging ikatnya enak, ketika digigit empuk sekali. Bahan empal dari daging sapi diikat dengan tali dari gedebong (batang pohon) pisang. Lalu, dibentuk seperti bola. Menu lainnya antara lain, semur jengkol, tahu, tempe, kentang, dan ayam goreng.

Dalam memasak nasi uduk dan nasi ulam, Andi masih memakai dandang dari tembaga. Beras yang dipakai merupakan kualitas pilihan. Beras direndam 2 sampai 4 jam untuk mendapatkan nasi yang enak dikunyah. Makanannya disajikan dengan besek plastik yang biasa dipakai untu acara kenduri. Sedangkan untuk menempatkan beragam lauk, dipakai penggorengan kecil dengan alas daun pisang.


Foto: Rachmad Sadeli