Nilai Gotong Royong Hingga Simbol Penderitaan Rakyat Pada Ritual Cuci Parigi

Tidak hanya kaya makna, budaya Cuci Parigi di Banda Naira juga sarat akan kesan mistis.

Sebelumnya pernah diceritakan soal sejarah budaya Cuci Parigi yang telah berlangsung selama ratusan tahun di Banda Naira, Maluku. Ternyata, selain soal tradisi, budaya Cuci Parigi juga terus dipertahankan lantaran sarat akan makna kehidupan.

Berkumpulnya warga asli Banda Naira dari segala penjuru Nusantara merupakan bentuk kesetiaan dan loyalitas terhadap tanah kelahiran mereka. Bahkan, masa digelarnya Cuci Parigi kerap disebut sebagai masa mudik bagi para penduduk Banda Naira.

Selain soal kesetiaan, panjangnya ritual Cuci Parigi juga mempererat tali silaturahmi antar penduduk. Bagaimana tidak, mereka harus bergotong royong untuk membawa kain raksasa yang menguras sumur Lonthoir sampai kering.

Kain yang disebut kain gajah itu tidak boleh menyentuh tanah sebelum digunakan untuk mengeringkan sumur.

Makna gotong royong juga tampak saat penduduk Banda Naira beramai-ramai mengarak belang, sebuah perahu darat adat khas Desa Lonthoir. Perahu ini diarak dari rumah adat Lonthoir ke sumur yang hendak dibersihkan.

Nilai seni juga terpancar kuat saat Cuci Parigi digelar. Baik saat mengantar kapal tradisional, maupun mengantar kain gajah, mereka selalu merasa lebih bersemangat dan lebih bertenaga manakala ada musik dan tarian pengiring.

Saat prosesi perarakan perahu adat berlangsung, para penari terus menerus meliuk-liukan tubuh untuk menari tarian tradisional cakalele. Saat para pria dewasa menggiring kain gajah ke sumur, warga lain sibuk memainkan tifa dan sebagian mendendangkan kabata, sebuah seni lagu tradisional dari Banda Naira.

Aura magis juga terasa begitu kental saat prosesi Cuci Parigi berlangsung, apalagi saat 99 orang warga berusaha menguras air sumur hingga kering. Saat itu sang tetua adat terus merapal doa dan mantera.

Tidak hanya berharap agar seluruh prosesi berjalan lancar, tetua adat juga mohon kepada Yang Maha Kuasa agar menghentikan aliran air sumur agar mudah dikeringkan. Aura mistis juga terasa saat kita mengunjungi rumah adat tempat menyimpan pusaka desa. Di dalamnya kita menemukan sesaji yang harus tetap tersedia selama prosesi Cuci Parigi berlangsung.

Salah satu simbol paling kuat di Cuci Parigi adalah batang bambu yang banyak ditancapkan di depan rumah dan di sepanjang jalan menuju sumur. Sekilas memang terlihat indah, namun bambu-bambu itu adalah simbol penderitaan dan kesedihan rakyat Banda Naira.

Tiang yang menggunakan bambu terbaik itu dihias dengan beberapa kain berwarna. Bambu biasanya diberi simpul di ujungnya. Simpul ini merupakan perlambang leluhur mereka yang pernah dibantai oleh pemerintah kolonial Belanda di abad 17.

Selain simpul, tiang-tiang bambu itu juga dibubuhi kain berwarna merah yang melambangkan usus yang terburai akibat pembantaian oleh pemerintah kolonial Jepang.