Gurih dan Uniknya Kuliner Ekstrem Ala Tomohon

Semakin saya teliti melihat barang dagangan, maka saya dapat melihat daging monyet, anjing, biawak bahkan tikus dijual di Pasar Tomohon. Malah ketika belum ada larangan keras dari pemerintah daerah, sejumlah hewan endemik langka seperti yaki, babirusa dan anoa masih bisa ditemui di pasar ini.

Akhir pekan di Pasar Tomohon, saya mendapati kondisi Pasar Tomohon sedang ramai-ramainya. Sekilas tak ada yang berbeda dengan pasar ini. Buah-buahan, sayur-sayuran dan aneka rupa barang dapur terlihat di atas meja para penjual. Namun masuklah lebih dalam, maka anda akan lumayan kaget melihat apa yang dijual di pasar ini.

Di bagian dalam Pasar Tomohon, saya bisa melihat hampir semua daging hewan penghuni kebun dan hutan di Sulawesi tersedia di lapak pedagang. Beberapa lapak menggantungkan daging ular piton yang masih lengkap dengan sisiknya Ular piton dengan panjang mencapai 5 hingga 8 meter memang biasa diperdagangkan di pasar Tomohon. Beberapa bahkan didatangkan dalam keadaan hidup. Pedagang lain menjual daging kelelawar yang dalam bahasa lokal disebut paniki.

Semakin saya teliti melihat barang dagangan, maka saya dapat melihat daging monyet, anjing, biawak bahkan tikus dijual di sini. Malah ketika belum ada larangan keras dari pemerintah daerah,  sejumlah hewan endemik langka seperti yaki,  babirusa dan anoa masih bisa ditemui di pasar ini.

Lidah orang Minahasa memang akrab dengan hewan liar. Survei Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi menyebutkan, daging hewan yang paling disukai orang Minahasa adalah tikus dan babi. Sementara daging ayam dan sapi, ada di urutan paling belakang.

“Mama ini mau dimasak apa ularnya?,” tanya saya pada seorang ibu-ibu yang membeli 2 kilogram daging ular. “Oh, ini mau saya rica,” jawabnya penuh semangat.

Mengapa tradisi menyantap dan memperdagangkan hewan liar tetap bertahan di Minahasa? Ini semua terjadi karena kontrol terhadap makanan sangat longgar. Orang bisa makan hewan apa saja karena tidak ada larangan. Tradisi itu makin kuat , lantaran menyajikan dan menyantap daging hewan liar dianggap bergengsi.

Jadi, rasanya ada yang kurang jika datang ke Pasar Tomohon,  tapi tak mencicipi salah olahan daging yang dijual. “Sudah cobain daging tikus? Saya jamin kakak ketagihan,” ujar salah seorang penjual. 

Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan. Saya membeli 3 ekor tikus hutan dan membawanya ke rumah salah seorang kawan di Tomohon untuk diolah lebih lanjut.

Tikus hutan jelas jauh berbeda dengan tikus got yang saya temui di Jakarta. Ukurannya tidak terlalu besar, badannya memanjang dengan warna ekor putih. Konon tikus hutan ini hanya makan buah-buahan dan binatang kecil di hutan.

Proses memasak tikus dimulai dengan memotong tikus yang sudah dibakar ini menjadi beberapa bagian kecil. Setelah itu daging tikus dilumuri air jeruk sebelum akhirnya digoreng. Setelah digoreng,  bumbu-bumbu dasar seperti serai, cabai tumbuk, daun jeruk dan beberapa bumbu tradisional lainnya ditumis hingga wangi. Jika sudah wangi, potongan kecil tikus goreng dimasukkan dan biarkan tumisan bumbu meresap. Tunggu sebentar hingga wanginya tercium dan tikus rica-rica ini siap dihidangkan.

Bagi saya, memasak daging tikus saja rasanya terlihat absurd, apalagi memakannya. Namun, sudah kepalang tanggung. Harumnya bumbu tumisan ini semoga dapat mengecoh pikiran. Dan, “hap!”.  Satu irisan tikus penuh bumbu masuk ke dalam mulut bersama nasi hangat.

Hmmm, surprise rasanya seperti burung dara, empuk dan gurih. Sendok pertama akhirnya diikuti sendok-sendok berikutnya sampai akhirnya nasi dan daging tak bersisa. Sekadar saran, jangan lihat kepala dan ekor tikus saat menyantapnya jika tak ingin pikiran bermain liar dan berujung pada mual, bahkan muntah.