Lukisan Tuhan yang Indah itu Bernama Ranu Kumbolo

Pendakian ke Ranu Kumbolo cukup menantang bagi saya yang sudah dua tahun absen mendaki. Jalurnya tanah berbatu dengan variasi tanjakan yang relatif mudah sampai sedang.

Saat diajak ke Ranu Kumbolo, Jawa Timur, saya langsung mengiyakan. Saya sangat bersemangat karena dari sekian banyak cerita teman yang sudah ke Ranu Kumbolo, mereka selalu ingin kembali lagi. Minimal, sangat berkesan dengan keindahannya. Oleh karena itulah, saya sangat menanti perjalanan ini.

Pendakian ke Ranu Kumbolo cukup menantang bagi saya yang sudah dua tahun absen mendaki. Jalurnya tanah berbatu dengan variasi tanjakan yang relatif mudah sampai sedang. Saya disuguhkan pemandangan ilalang dan pepohonan di hampir sepanjang jalur. Namun, ketika Ranu Kumbolo yang megah sudah terlihat di mata, semangat tumbuh lagi dan kaki serasa lebih ringan melangkah.

Menjelang sore, sampailah saya di lokasi perkemahan di sisi utara tepi danau Ranu Kumbolo. Angin gunung mulai terasa menusuk seiring matahari terbenam. Namun, pemandangan dan suasana di Ranu Kumbolo seakan mengobati semua rasa dingin dan lelah yang terasa.

Seakan tidak henti dimanja alam, langit malam itu pun menunjukan pesonanya. Ribuan bintang dan bulan tampak cerah di atas langit. Sungguh saya takjub dan berterimakasih kepada Yang Maha Esa untuk pemandangan tersebut. Semakin tidak sabar juga saya menanti pagi, karena malam yang cerah menjadi salah satu kode kalau pagi hari juga akan cerah. 

Esok paginya, saya dibangunkan oleh hangat sinar matahari yang menyusup masuk ke dalam tenda. Spontan saya beranjak bangun dan keluar dari tenda supaya tidak melewatkan momen itu. Tidak peduli dingin yang menusuk, tidak peduli bau harum yang keluar dari badan dan tidak peduli muka yang masih kumal.

Keluar dari tenda, saya hanya bisa tertegun. Di depan mata terlihat lukisan terindah dari Sang Pencipta. Matahari pagi menyingsing dari antara langit cerah dan bukit barisan di kejauhan memberi kehangatan setiap makhluk yang ada di Ranu Kumbolo, termasuk saya. Para pendaki tampak ramai di tepi danau mengabadikan momen ini, melengkapi lukisan itu dengan siluet-siluet yang cantik.

Orang sering bertanya, kapan momen terindah di hidup saya? Saya selalu mengatakan momen di Ranu Kumbolo pagi itu. Sambil masih meresapi keindahannya, salah satu teman pendaki menyambut ceria sambil menyodorkan segelas teh hangat. Teh itu menjadi teh ternikmat sekaligus termahal yang pernah saya minum. Mengapa? Karena teh itu berlatarkan lukisan terindah buatan Yang Maha Esa: Ranu Kumbolo.

Ingatan akan lukisan itu berbekas dalam di hati dan pikiran saya sampai hari ini. Sampai seringkali membayangkan untuk bisa mengajak orang yang tersayang untuk bisa menikmati lukisan yang sama. Mungkin suatu hari Sobat Pesona bisa mencobanya juga, dengan teman atau pujaan hatinya masing-masing.