Ziarah Kubro, Tradisi Religi Masyarakat Arab di Palembang

Tradisi tahunan masyarakat muslim Palembang yang bermukim di sekitar Sungai Musi, khususnya komunitas Arab. Berawal pada masa Kesultanan Palembang Darussalam di Abad 16, kini tercatat sekitar 10 ribu umat Islam dari dalam dan luar negeri hadir pada Ziarah Kubro 2019 di Palembang.

Kota Palembang di Sumatera Selatan (Sumsel) identik dengan wisata kuliner pempek yang gurih dan menyegarkan, serta Jembatan Ampera yang megah. Namun, Palembang ternyata juga memiliki wisata religi bertajuk Ziarah Kubro yang digelar setiap tahun. Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun dan kondang hingga mancanegara. Tercatat sekitar 10 ribu umat Islam dari dalam dan luar negeri hadir pada Ziarah Kubro pada Ramadhan tahun 2019 ini di Palembang.


Ziarah Kubur dari Tradisi Yaman
Ziarah kubro merupakan tradisi kuno yang dilakukan sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam (1659-1823). Namun, ketika itu, tradisi ini hanya dilakukan kerabat kesultanan dan baru terbuka untuk umum pada 1970-an. Saat itu kegiatan hanya dilakukan satu hari. Namun, karena jumlah jemaah terus bertambah, waktu pelaksanaannya ditambah menjadi tiga hari sejak 2010. Bukan hanya itu, karena unik dan diminati orang dari luar Sumsel dan luar negeri, kegiatan ini bahkan menjadi agenda wisata Sumatera Selatan sejak 2013.

Ziarah kubro digelar sebelum memasuki bulan Ramadan setiap tahunnya. Puluhan ribu pria berjubah putih yang memadati beberapa kawasan di Kota Palembang pun menjadi pemandangan biasa bagi warga Palembang. Kegiatan religi Islami ini merupakan salah satu tradisi yang awalnya dilakukan para keturunan Yaman, untuk berziarah ke makam-makam para sesepuhnya. Dari tahun ke tahun, jamaah yang mengikuti Ziarah Kubro ini tidak hanya berasal dari keturunan Yaman saja, namun banyak dari warga lokal hingga turis mancanegara.

Ziarah Kubro sendiri diartikan sebagai "ziarah kubur" dalam bahasa Indonesia. Bagi masyarakat Palembang, ziarah kubro merupakan kegiatan berziarah massal ke makam-makam para ulama dan pendiri Kesultanan Palembang Darussalam, atau kerap juga disebut ‘waliyullah’. Kegiatan ini dikhususkan bagi kaum laki-laki. Peziarah biasanya menenakan kegiatan serba putih dari baju hingga celana, kemudian berbondong-bondong memadati beberapa jalanan di Palembang, persis seperti sebuah pawai.

Beberapa ulama dan bangsawan dari negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, bahkan Yaman akan ikut serta berziarah. Para ulama dan bangsawan tersebut akan berjalan kaki menuju sejumlah titik ziarah di Palembang dalam sebuah barisan panjang sambil menjunjung panji-panji bertuliskan huruf Arab.

Makam yang disambangi ribuan umat muslim tersebut tidak berpusat di satu tempat saja, melainkan tersebar di berbagai lokasi di Palembang. Mulai dari Kambang Koci 5 Ilir, Kawah Tekurep, hingga ke wilayah Seberang Ulu.

Pada hari pertama, ribuan jemaah mengunjungi makam Habib Ahmad Bin Syech Shahab di kawasan Masjid Darul Muttaqien Kecamatan Ilir Timur II Palembang. Kemudian jamaah mengunjungi makam Gubah di Jalan Ki Azhari Kelurahan 14 Ulu Palembang dan pemukiman keturunan As-Seggaf di Kelurahan 16 Ulu Palembang. Puncaknya adalah dengan mengunjungi pemakaman Al-Habib pangeran Syarif Ali Bsa, Kawah Tengkurep dan Kambang Koci di Kecamatan Ilir Timur II Palembang.


Foto: Arkaff Rasyid, Sandiyanto, Ahmad Nanda Nasrullah