Bau Peapi, 3 Cita Rasa Khas Polewali Mandar

Kata “Bau” dalam bahasa Mandar berarti ikan, sedangkan kata “Peapi” berarti masakan. Jadi Bau Peapi merupakan masakan berbahan dasar ikan. Berikut 3 olahan hasil laut ala Polewali Mandar nan lezat. Salah satunya kondang hingga Jepang, menjadi pelengkap kuliner legendaris, sushi dan sashimi.

Kekayaan alam yang terkandung dalanm perairan Indonesia merupakan salah satu anugerah Sang Pencipta bagi seluruh masyrakat Indonesia. Bukan sebuah keheranan jika saja banyak bahan pangan bahkan kulinjer khas  daerah-daereah di Nusantara ini yang berbahan dasar dari hasil laut berupa Ikan.

Cita rasa khas Nusantara yang istimewa itu dapat kita temui di salah satu daerah di Propinsi Sulawesi Barat, yaitu Kabupaten Polewali Mandar. Topografi wilayahnya yang membentang sepanjang  pesisir laut membuat masyarakat di daerah ini ahli dalam menciptakan olahan lezat dengan bahan dasar ikan bercita rasa tinggi.


Bau Peapi
Masyarakat Polewali Mandar menyebut kuliner khas mereka ini dengan nama Bau Peapi. Kata “Bau” sendiri dalam Bahasa daerah setempat berarti Ikan, sedangkan kata “Peapi” sendiri berarti Masakan. Jadi Bau Peapi merupakan masakan berbahan dasar ikan. Ada banyak menu hasil olahan dari Bau Peapi ini, mulai dari gorengan kering, bakar rica hingga santapan bersantan yang tentu saja dapat menggoyang lidah bagi siapa saja yang mencicipi Bau Peapi.


Telur Ikan Tuing-Tuing
Selain Bau Peapi di daerah Polewali Mandar juga terkenal dengan olahan makanan yang berasal  dari telur ikan terbang. Telur ikan terbang sendiri merupakan salah satu komoditi andalan yang ada di Polewali Mandar yang hasilnya di ekspor ke Jepang. Di jepang Salah Telur Ikan Terbang ini biasa di jadikan bahan pembuat Sushi atau Sashimi yang dikenal dengan nama Tobiko.

Ikan terbang atau yang dikenal masyarakat Kabupaten Polewali Mandar dengan nama ikan “tuing-tuing” punya tempat tersendiri di meja santapan orang mandar. Telur dari Ikan yang memiliki  nama latin Exocoetidae ini sejatinya merupakan bahan pangan yang cukup lezat untuk diolah menjadi makanan dan tentunya juga kaya akan berbagai Vitamin dan gizi.

Bercerita tentang proses pencarian telur ikan tuing-tuing ini, butuh waktu tujuh hingga empat belas hari bagi para nelayan pemburuhnya untuk dapat membawah pulang telur ini. para nelayan pencari telur ikan tuing-tuing ini akan menyebar daun kelapa atau yang mereka sebut dengan “Bale-Bale” ratusan meter dari perahu mereka. Selanjutnya ikan tuing-tuing ini akan hinggap dan bertelur di Balke-Bale yang telah di tebar oleh para nelayan. Setelah 24 jam bale-bale ini akan di Tarik oleh nelayan selnajutnya telurnya akan di ambil lalu di jemur untuk di keringkan.

Telur ikan tuing-tuing atau ikan terbang ini merupakan salah satu komiditi ekspor andalan Kabupaten Polewali Mandar. Kalau Sobat Pesona menyantap makanan khas Jepang bernama Sushi atau Sashimi, di atas gulungan Sushi atau Sashimi kita biasa mendapati hiasan yang menyerupai rumput atau berwarna kuning. Hiasan itulah yang biasa disebut orang jepang dengan nama Tobiko, dari telur ikan tuing-tuing. Harga jual telur ikan tuing-tuing sendiriu terbilang cukup tinggi dengan kisaran sebesar 450 ribu per kilogramnya.


Telur Masak Santan
Masyarakat Polewali Mandar sangatlah mahir mengolah telur ikan tuing-tuing ini menjadi santapan yang menggugah selera. Salah satunya adalah Telur masak santan yang berasa masam, padas, dan gurih. Bahan rempah yang digunakan untuk membuat olahan masakannya pun terbilang cukup mudah dan gampang didapati di pasar-pasar tradisional seperti sere, lengkuas, bawang putih, kemiri, tomat, merica, cabe keriting, kunyit, jeruk.

Bau Peapi dan telur ikan tuing-tuing ini merupakan sekawan yang wajib Sobat Pesona cicipi ketika berkunjung ke Kabupaten Polewali Mandar, Propinsi Sulawesi Barat. Cita rasa khas mandar yang niscaya membuat anda susah lupa akan daerah ini.


Foto : Josua Marunduh