Tato Khas Mentawai, Tato Tertua di Dunia

Tato Mentawai juga menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi masyarakat Mentawai. Motifnya pun tidak boleh sembarangan. Semua ada aturannya, loh!

Saat datang ke Mentawai, pasti kita akan mudah bertemu penduduk asli Mentawai dengan tubuhnya penuh tato. Konon, tato Mentawai adakah tato tertua di dunia yang dikenal dengan Titi. Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Di Mentawai, tato juga menunjukkan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi.

Sebagai contoh, tato Sikerei, sebutan dukun di Mentawai, berbeda dengan tato pemburu. Pemburu dikenal dengan gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, monyet, burung, atau buaya. Sedangkan Sikerei diketahui dari tato bintang “Sibalu-balu” di tubuh mereka.

Istilah “Tattoo” diambil dari kata “Tatau” dalam bahasa Tahiti. Tato pertama kali tercatat oleh peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada tahun 1769. Menurut beberapa peneliti, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke 20. Namun, seni lukis tubuh ini ditemukan di hampir semua bagian dunia dengan berbagai desain dan pola.

Tato Mesir, yang diperkirakan tato tertua ditemukan pada 1300 SM, sedangkan suku di Mentawai sudah menato tubuh mereka sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada zaman logam, atau sekitar 1500 SM-500 SM. Mereka merupakan bangsa Proto-Melayu yang berasal dari daratan Asia, Indocina.

Berdasarkan tradisi Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam tradisi orang Mentawai, objek seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di tubuh mereka. Mereka menganggap semua hal memiliki jiwa. Fungsi lain dari tato adalah seni, orang Mentawai menato tubuh mereka sesuai dengan kreativitasnya.

Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, Arat Sabulungan. Istilah ini berasal dari kata “sa” yang artinya koleksi, dan “bulung” berarti daun. Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran dari kelapa atau pucuk pohon sagu, diyakini memiliki kekuatan magis, yang disebut Kere atau Ketse. Kekuatan magis Ini digunakan sebagai media pemujaan terhadap Tai Kabagat Koat alias Dewa Laut, Tai Ka-leleu si Dewa hutan dan gunung, dan Tai Ka Manua sang Dewa awan.

Arat Sabulungan digunakan dalam upacara, kelahiran, pernikahan, pengobatan, pindah rumah, dan tato. Ketika anak laki-laki memasuki usia 11-12 tahun, Sikerei dan Rimata (kepala suku) akan bernegosiasi untuk menentukan hari dan bulan pelaksanaan tato.

Setelah itu, dipilihlah Sipatiti, orang yang menato. Keahlian Sipatiti harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum menato, diadakan upacara yang dipimpin oleh Sikerei di Puturukat, semacam galeri milik Sipatiti tersebut.

Tubuh anak laki-laki yang akan tato digambar dengan tongkat. Sketsa pada tubuh kemudian ditusuk dengan jarum kayu. Tubuh anak dipukul perlahan-lahan dengan tongkat kayu untuk memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang digunakan adalah pewarna alami, dari campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa.