Selat Mbak Lies, Akulturasi Eropa dan Jawa di Kampung Serengan

Solo terkenal sebagai pusat tujuan wisata kuliner. Salah satu kuliner yang cukup terkenal dari kota kelahiran Presiden Jokowi itu adalah Selat Solo. Makanan tersebut merupakan hasil modifikasi dari makanan khas Barat pada jaman penjajahan.

Selat Solo telah menjadi ciri khas kuliner di kota tersebut, tak pelak sejumlah warung pun menyajikan selat sebagai menu andalanannya. Salah satu warung yang cukup terkenal di Solo adalah warung Selat Solo Mbak Lies.

Meskipun warung tersebut terletak di dalam gang Kampung Serengan Gang II/42, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Solo, namun selalu diserbu pembeli. Tak hanya dari Solo, para pembeli dari luar kota juga banyak yang berdatangan untuk mencicipi Selat Solo Warung Selat Mbak Lies.


Adem, Dimakan Setelah Diobrak-abrik
Pemilik Warung Selat Mbak Lies, Wulandari Kusmadyaningrum mengatakan sejarah awal Selat Solo sebenarnya berawal dari negara Eropa, salah satunya Belanda. Saat masa penjajahan dulu kala, orang-orang Belanda di Jawa memasak salad lengkap dengan daging dan telur. "Namun saat itu daging dan telur merupakan barang yang mewah dan wah sehingga tidak bisa terjangkau bagi orang pribumi pada saat masa penjajahan itu," kata dia.

Oleh sebab itu, lanjut Wulandari, orang-orang Jawa pada masa penjajahan itu pun tidak mau kalah dengan noni-noni Belanda yang memasak salad. Akhirnya, masakan khas Eropa itu dimodifikasi dan menjadi selat. "Jadi Selat Solo ini semacam makanan akulturasi budaya Belanda dan Jawa," jelas Wulandari yang biasa disapa Mbak Lies.

Menurut dia, dalam satu porsi Selat Solo terdiri dari 12 macam sayuran, antara lain antara lain kentang goreng, wortel rebus, tomat, mentimun, ceriping kentang, buncis dan daun selada. Ditambah daging sapi, telur rebus dan mayones serta kuah yang terbuat dari kaldu sapi dan kecap manis.

"Makanan selat ini termasuk empat sehat lima sempurna karena ada sayur, daging, telur dan susu. Susu itu sebenarnya di bumbunya mayones," jelasnya.

Warung Selat Mbak Lies menyediakan berbagai varian Selat Solo, di antaranya selat lidah, selat bistik, selat ganalntin kuah saus dan selat galantin kuah segar. Selat Solo disajikan dengan kuah atau saus yang dingin. "Kalau Selat Jawa itu adem menyajikannya. Dan cara makannya itu diobrak-abrik mayonesnya biar nyampur jadi asem manis," ucapnya.

Warung Selat Mbak Lies berdiri sejak tahun 1987. Saat itu Mbak Lies mulai membuka usaha kuliner itu ketika berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA, usaha itu pun digeluti dengan serius dan akhirnya berkembang pesat menjadi besar.

"Awalnya itu jualannya gonta-ganti setiap harinya, dari sop manten, gado-gado lonting, tahu acar, Selat Solo. Tapi saya akhirnya memutuskan untuk fokus jualan selat," akunya.

Warung selat tersebut pun terbilang unik karena warungnya dipenuhi dengan interior perabtoan antik seperti guci, piring, vas bunga, keramik dan barang antik lainnya. Sedangkan para pelayan warung selat tersebut juga nyentrik karena kadang mengenakan busana ala Belanda dan Jawa. "Ya kadang pakai busana Jawa, tapi ya pakai busana Belanda karena ini adalah akulturasi," tuturnya.


Foto : Fajar Sodiq