Mengenang Kegagahan Klenteng Tay Kak Sie

Walau letaknya di dalam gang, namun Tay Kak Sie menyimpan kemegahan masa lalu.

Jika dilihat sekilas dari jalan besar di kawasan pasar Johar atau di kelurahan Kauman, Semarang Tengah, tak begitu terlihat tanda-tanda adanya klenteng megah di sekitar tempat ini. Apalagi, sekitar Pasar Johar dipenuhi gang sempit dengan pemandangan pemukiman padat penduduk.

Namun saat kita menyusuri lorong gang Lombok yang berada persis di belakang Pasar Johar, kita baru bisa melihat betapa gagahnya Klenteng Tay Kak Sie. Klenteng ini bahkan menjadi klenteng terbesar di kawasan Semarang.

Tidak jelas kapan tepatnya Tay Kak Sie dibangun. Beberapa literatur hanya menyebutkan bahwa klenteng ini dibangun pada masa Dinasti Qing, tepatnya saat Kaisar Dao Guang berkuasa. Kaisar Dao Guang sendiri memimpin dinasti sejak 1821 hingga 1850.

Awalnya, Tay Kak Sie dibangun secara khusus untuk menjadi tempat pemujaan Dewi Welas Asih Koan Sie Im Po Sat. Namun, dalam perkembangannya, baik penganut Taoisme dan Konfusianisme ikut beribadah di klenteng ini untuk memuja dewa-dewi lainnya.

Bahkan, semakin hari, Klenteng Tay Kak Sie tidak cuma menjadi tempat ibadat, tapi juga menjadi salah satu tempat tujuan wisata para pelancong lokal maupun asing.

Jika datang ke Semarang, sempatkan mampir ke klenteng ini walau hanya sembari lewat. Di sini kita bisa melihat betapa uniknya masyarakat etnis Tionghoa yang berada di Semarang. Mereka sangat terbuka dengan kehadiran para pelancong, mungkin karena mereka juga telah berbaur dengan masyarakat asli Semarang.

Di klenteng yang memiliki arti Kuil Kesadaran Agung ini kita juga bisa melihat secara langsung budaya masyarakat Tionghoa Semarang yang penuh filosofi. Dari tatanan arsitektur klenteng misalnya, ornamen naga di atas atap klenteng melambangkan penjaga klenteng dari pengaruh jahat.

Tiang penahan bangunan juga masih menganut budaya Tionghoa asli yang berbentuk segitiga. Tiang bentuk ini sangat umum kita temui di klenteng-klenteng di tanah Tiongkok.

Sayangnya, pada Bulan Maret 2019 lalu, klenteng yang disebut-sebut sebagai kuil tertua di Semarang ini terbakar habis. Musibah itu juga merenggut nyawa sang juru kunci yang selama ini selalu menemani para wisatawan yang ingin tahu lebih dalam soal Tay Kak Sie.

Hingga saat ini, pengurus yayasan Kong Tiek Soe yang mengelola klenteng belum mengetahui kapan pembangunan klenteng akan rampung dikerjakan.