Milkybo, Cafe Olahan Susu Kerbau Sumbawa

Cappucino pakai susu kerbau? Kenapa enggak, kerbau memiliki tempat spesial bagi masyarakat Sumbawa. Kerbau mempengaruhi seni, tradisi hingga kuliner Sumbawa.

Tidak seperti kebanyakan daerah lain di Indonesia, kerbau bagi masyarakat Sumbawa tak hanya digunakan untuk membajak sawah. Kerbau bahkan mengisi celah dan mendapat tempat penting dalam sebuah keluarga. Beberapa makanan khas daerah ini pun berasal dari olahan kerbau. Mulai dari penggunaan kulitnya untuk alat musik tabuh tradisional, olahan daging serta susu hewan berkaki empat ini pun sudah lama menjadi hidangan tradisional khas. Termasuk dalam mengisi acara-acara formal dan penting.

Sayangnya, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Populasi kerbau di Sumbawa kini semakin menyusut. Seperti diungkap Ketua Persatuan Barapan Kebo Sumbawa, H. Ilham Mustami, saat ditemui di rumahnya beberapa waktu lalu. Selain proses memelihara kerbau yang dianggap lebih susah ketimbang sapi. Dampak kemarau yang cukup panjang juga menjadi salah satu penyebabnya. Kekeringan yang melanda beberapa wilayah di kabupaten ini membuat ketersediaan pakan dan air menjadi terbatas.

Palopo Hingga Kebocino
Demi mengembangkan populasi kerbau di Sumbawa, salah satu cara agar menaikkan nilai ekonomi kerbau adalah dengan membuka sebuah cafe bernama Milkybo di Jl. Mawar No. 24, Bugis, Sumbawa, NTB. Selain menyajikan peganan tradisional Sumbawa yang terbuat dari susu kerbau bernama Palopo dan Poteng Jadi. Pihaknya juga menggunakan susu kerbau sebagai campuran minuman berbahan dasar biji kopi seperti Capucino yang kemudian disebutnya Kebocino.

Pengembangan lain, Palopo, makanan tradisional Sumbawa berbentuk seperti puding ini pun tak hanya hadir dalam bentuk asli yang disajikan dengan cairan gula merah atau gula aren. Ditempat ini, beragam rasa Palopo seperti vanilla dan strawberry dikembangkan demi menarik pelanggan.

Susu Kerbau Segar
Bahan dasar beragam kuliner berbahan susu kerbau ini adalah hasil peternakan pribadi yang ada di kawasan Maronge, sekitar 30 menit dari Kota Sumbawa. Di lokasi ini hidup bebas puluhan ekor kerbau pedaging dan perah. Tidak seperti sapi, proses pemerahan kerbau ditempatnya masih dijalankan secara tradisional. "Pemerahan dilakukan sekali dalam sehari. Bila hari ini diperah besoknya kerbau diistirahatkan. Dengan begitu, anak kerbau tetap mendapat makanan dan asupan gizi dari induknya," tukasnya.

Saat ini, produksi susu per ekor kerbau dalam sehari masih berkisar 3 liter. Sehingga untuk membesarkan usaha Milkybo, pihaknya membutuhkan lebih banyak lagi kerbau perah. Hal-hal seperti inilah yang kemudian diharapnya mampu meningkatkan nilai ekonomis kerbau. Memancing masyarakat untuk kembali memelihara serta mampu meningkatkan populasi kerbau di Sumbawa.

Ilham bersyukur, langkahnya kini didukung oleh peternak kerbau lainnya. Beberapa Kelompok Usaha Tani di kawasan Maronge kini telah menjadi pemasok susu kerbau untuk Milkybo. Dengan produksi susu yang meningkat, dirinya juga terus berusaha mengembangkan produk dan usaha Milkybo agar tak hanya hadir di Sumbawa. "Beberapa rencana sudah disiapkan. Seperti ingin membuat keju dan membawa Milkybo hingga ke luar Sumbawa," tuturnya.

Susu sapi memang lebih akrab dengan masyarakat umum. Terlebih banyak kuliner berbahan susu sapi yang mungkin setiap hari hadir dalam konsumsi sehari-hari. Mencoba susu kerbau untuk pertamakali mungkin akan terasa perbedaannya. Susu kerbau terasa lebih kaya, mirip susu sapi full cream.

Jika masih ragu untuk mencoba segelas susu kerbau segar ketika mengunjungi tempat ini. Ada baiknya untuk mencoba kuliner tradisional Sumbawa bernama Poteng Jadi. Yakni bola-bola mungil tape ketan yang disiram susu kerbau segar bertabur keju cheddar parut. Dijual dengan harga Rp 13 ribu, semangkuk Poteng Jadi tidak pernah gagal dalam membangkitkan selera. Masih menurut Ilham, beberapa pelanggan yang pertamakali mencoba makanan ini mengaku menyukainya. Termasuk beberapa wisatawan lokal dan mancanegara.