Bertemu Mumi dan Mendaki Punggung Gajah, Cuma di Wamena

Berpetualang di Wamena merupakan pengalaman yang sungguh istimewa. Ada 4 atraksi alam dan budaya yang cuma bisa kita temukan di sini. Dari bertemu mumi berusia ratusan tahun hingga mendaki Punggung Gajah yang spektakuler.

Kabupaten Jayawijaya menyimpan beragam objek wisata yang masih jarang dikunjungi para wisatawan. Selain karena lokasinya jauh dari Kota Wamena, akses jalan masih sulit karena sedang dalam pengerjaan. Meski begitu, berpetualang ke kawasan di Pengunungan Tengah Papua ini merupakan pengalaman yang sungguh istimewa. Wamena memiliki bentang alam dan kekayaan budaya yang tak ada duanya. Berikut 4 atraksi alam dan budaya yang cuma bisa Sobat Pesona temukan di Wamena.


Mumi Werupak Elosak
Salah satu objek wisata yang terkenal dan lokasinya mudah dijangkau yakni keberadaan mumi orang Papua. Menurut sebuah penelitian pada akhir 1980-an sampai awal tahun 1990-an, sebanyak tujuh mumi ditemukan di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh mumi itu masing-masing berada di Distrik Kurulu, Wamena, berjumlah 3 mumi; kemudian di Distrik Assologaima, Wamena juga sebanyak 3 mumi; dan 1 mumi di Distrik Kurima Kabupaten Yahokimo yang adalah satu-satunya mumi perempuan.

Yang paling dikenal wisatawan, adalah mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya. Masyarakat mengizinkan para pengunjung mengambil gambar, namun harus membayar. Mumi Werupak Elosak diketahui telah berusia sekitar 230 tahun. Untuk memotret mumi ini, pengunjung biasanya diminta membayar ratusan ribu rupiah.

Berbeda dengan mumi Wimontok Mabel, untuk memotret mumi yang kira-kira berusia sekitar 382 tahun, pengunjung bisa dikenakan biaya hingga jutaan rupiah. Namun harga itu terbilang wajar, sebab masyarakat di sana juga telah bersiap-siap dengan busana khas Papua, untuk menyambut para tamu.


Batas Batu
Selain mumi, wisatawan juga bisa berkunjung ke objek wisata Batas Batu yang terletak di antara ruas Habema-Kenyam-Mamugu. Untuk sampai ke sini, butuh waktu sekitar tiga jam berkendara dari Kota Wamena. Tergantung jika cuaca sedang cerah, karena kabut kerap menghalangi jalan.

Namun kelelahan dalam perjalanan akan terbayarkan, oleh pemandangan Batas Batu yang berupa bukit datar terdiri dari gundukan bebatuan berwarna putih, yang seolah-olah tertutup salju. Di Batas Batu ini, juga kerap dijadikan lokasi foto prewedding oleh sejumlah pasangan pengantin, karena keindahannya. Lanskapnya yang unik, membuat foto kita seperti sedang berada di dataran Eropa.


Pasir Putih
Selain Batas Batu, ada juga objek wisata Pasir Putih di Kampung Aikima. Uniknya, keberadaan pasir putih ini tanpa lautan karena Wamena berada di daerah pegunungan. Jarak tempuhnya dari Kota Wamena hanya sekitar 15 menit saja. Objek wisata Pasir Putih ini pun bisa nampak dari pesawat, jika kita hendak mendarat di Bandara Wamena.

Konon, dulunya Lembah Baliem adalah danau raksasa yang dijuluki orang sekitarnya sebagai Woi. Namun seiring waktu danau ini surut, lalu tersisa pasir-pasir putih di beberapa bagian dasar danau. Pasir-pasir putih ini memang ada di beberapa titik perbukitan.


Punggung Gajah
Selain Batas Batu dan Pasir Putih, Kabupaten Jayawijaya masih memiliki objek wisata lainnya yang tak kalah indahnya. Orang-orang di sana kerap menyebut objek wisata ini dengan julukan Kusimbebe, sedangkan sebagian orang atau pengunjung menyebutnya Punggung Gajah. Jarak menuju Punggung Gajah hampir sama dengan jarak menuju Batas Batu. Pengendara mobil harus menempuh jalan dengan waktu sekitar tiga jaman dari Kota Wamena, baru bisa tiba di lokasi ini.


Foto : Stefanus Tarsi