Masjid Agung Sunda Kelapa, Megah Tanpa Kubah, Beratap Perahu

Selesai dibangun pada 1970, Masjid Agung Sunda Kelapa tetap berdiri gagah di tengah-tengah kawasan perumahan elite di Menteng, Jakarta Pusat.

Lahan luas yang kini kita kenal sebagai letak Masjid Agung Sunda Kelapa, dulu adalah Taman Sunda Kelapa. Baru ketika akhir dekade 1960-an atas gagasan Ir. Gustaf Abbas (1960-an), masjid ini mulai dibangun hingga akhirnya selesai pada 1970. Letak masjid ini tak jauh dari Taman Suropati, yang di zaman Belanda disebut Burgermeester Bischoplein.

Hingga kini Masjid Agung Sunda Kelapa masih menunjukkan karakter aslinya sebagai bangunan yang apik dan bersejarah. Sejak dari gerbang utama, Sobat Pesona akan langsung dihadapkan pada gapura berukir kaligrafi Arab bernuansa warna hijau dan emas. Di halaman masjid, terdapat menara dengan simbol bulan dan bintang di puncaknya.

Memasuki selasar masjid, kita bisa melihat atap masjid yang tak berkubah, tetapi memiliki bentuk melengkung. Kabarnya, atap tersebut dibuat seperti perahu, sebagai tribut untuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Lalu, di bangunan utama masjid, kita bisa melihat bahwa Masjid Sunda Kelapa terbagi menjadi beberapa ruangan: ruang salat dan ruang serba guna, Aula Sakinah dan Serambi Jayakarta.



Yang disayangkan, Masjid Sunda Kelapa terlihat tak terawat di banyak titik. Belum lagi, terutama di bulan Ramadan, digelar pasar kaget khusus menjual menu berbuka di halaman depan.


Foto : Astri Apriyani