Menjelajah Gua Jomblang, Ray of Light dan Cerita Mistis

Gua Jomblang terbentuk akibat proses geologi dari amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah luweng.

Gua Jomblang di Desa Pacarejo, Kabupaten Guning kidul , Yogyakarta, merupakan gua vertikal yang bertipe collapse doline. Gua ini terbentuk akibat proses geologi dari amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan istilah luweng. Itulah yang membuat Gua Jomblang unik karena di dalam gua terdapat mulut gua selebar 50 meter yang diberi nama Luweng Jomblang.

Pada cekungan berdiameter sekitar 50 meter dengan kedalaman di perkirakan 65 m ke dasarnya ini, tumbuh hutan purba yang sangat  hijau merimbun. Jelas ini begitu kontras dengan kondisi permukaan yang kering dan panas khas perbukitan karst. Aneka paku-pakuan, lumut,  semak, hingga pohon-pohon besar tumbuh dengan rapat dan lebatnya. Hutan pada bagian dalam gua sering disebut hutan purba. Vegetasi ini terus berkembang biak dan hidup hingga saat ini, sehingga suasana di Luweng Jomblang pun akan terasa begitu sejuk dan segar.

Gua Jomblang ini sebenarnya sepaket dengan Gua Grubug yang terkenal dengan Cahaya Surgawi atau Ray of Light (ROL). Cahaya ini turun dari lubang gua yang ditutupi pepohonan lalu menimpa batu kordin (batu kapur) putih yang berasal dari tetesan air di langit-langit gua selama ribuan tahun. Cahaya surgawi ini  dapat anda nikmati sempurna saat matahari bersinar cerah yaitu antara pukul 11.00-13.00 WIB.

Gua Jomblang dan Grubug dihubungkan oleh sebuah lorong dengan panjang 300 meter. Jalan lorong ini selalu basah karena suhu udara yang lembab dan tanah liat yang kental. Saat melewati lorong ini, kita harus sangat berhati-hati dan harus dipandu oleh pemandu karena jalan sangat licin.. Bekal kita selama menjelajah gua adalah tali pengaman, peralatan mendaki yang memadai serta senter untuk menerangi.

Gua Jomblang juga memiliki cerita sejarah yang sangat kelam. Pada era 1970-1980-an, gua ini dipakai untuk lokasi pembunuhan massal anggota PKI. Ratusan anggota PKI diperkirakan menemui ajalnya di gua ini. Menurut cerita, mereka dikelompokkan dan dijejerkan di bibir gua dengan tangan saling terikat satu dengan yang lain. Ketika salah satu ditembaki sampai jatuh ke dalam gua maka anggota lainnya semua akan ikut terjatuh.

Bersamaan dengan cerita tersebut, banyak kejadian yang menyebut bahwa beberapa pengunjung hilang saat memasuki area gua. Kisah tersebut sempat membuat takut masyarakat setempat. Hingga akhirnya pada tahun 1990-an, masyarakat sekitar gua menggelar doa bersama di gua tersebut. Sejak itu, tidak ada cerita atau kejadian penjelajah gua yang hilang ditelan Gua Jomblang.

Bagi yang belum terbiasa mendaki atau melakukan wisata ekstrem, jalur yang dipakai untuk mencapai dasar gua akan sangat melelahkan. Ditambah lagi cerita-cerita seram mengenai gua, mungkin akan membuat Sobat Pesona gentar sebelum memasuki gua tersebut. Akan tetapi begitu masuk ke dalamnya segala perasaaan yang mengganggu sebelumnya akan tergantikan dengan keindahan Gua Jomblang yang memesona.