Menyeduh Senja di Bukit Kasih Minahasa

Memasuki area Bukit Kasih, saya langsung disambut oleh sebuh monumen besar dengan tinggi sekitar 22 meter. Monumen ini dinamai Tugu Toleransi. Dinamai Tugu Toleransi karena tugu ini berbentuk segi lima dan disetiap sisinya tedapat ukiran gambar dan simbol serta kutipan ayat kitab suci dari masing-masing agama.

“Torang Samua Basodara” yang berarti kita semua bersaudara. Kalimat ini telah menjadi semboyan hidup masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara selama ratusan tahun. Hal ini yang tercermin di Bukit Kasih, salah satu ikon Minahasa yang  menggambarkan toleransi masyarakat dengan segala perbedaannya.

Memasuki area Bukit Kasih, saya langsung disambut oleh sebuah monumen  besar dengan tinggi sekitar 22 meter. Monumen ini dinamai Tugu Toleransi. Dinamai Tugu Toleransi karena tugu ini berbentuk segi lima dan disetiap sisinya terdapat ukiran gambar dan simbol serta kutipan ayat kitab suci dari masing-masing agama. Namun, dibalik ketenarannya sebagai simbol kerukunan beragam di Minahasa, Bukit Kasih sejatinya merupakan kawasan wisata geologi dengan aktivitas vulkanologi dan hidrotermal yang sangat tinggi.

Bukit Kasih kini terlihat seperti bukit dengan bongkahan putih.  Padahal, dulunya berwarna cokelat layaknya warna bukit batu biasa. Warnanya berubah karena adanya kandungan asam yang sangat tinggi pada belerang sehingga membuat permukaan batu di Bukit Kasih menjadi berwarna putih.

Kawasan seperti ini tidak hanya bisa kita jumpai di daerah Minahasa saja, tapi tersebar diseluruh daerah vulkanis yang berada di indonesia seperti Jawa Barat dan Sumatera. Jujur,  di sini saya sedikit menahan nafas karena baunya belerangnya sangat menyengat. Belerang ini terbentuk akibat proses hidrotermlal, akibat cairan yang keluar dari perut bumi melalui rekahan-rekahan.

Untuk menyisir Bukit Kasih, saya harus menyediakan tenaga ekstra. Total keseluruhan anak tangga ada 2.432 buah yang lumayan membuat kaki pegal-pegal.  Ribuan anak tangga ini menuju empat destinasi yakni lima tempat ibadah yang merupakan puncak tertinggi, lokasi salib raksasa, sebuah pondok besar bagian tengah bukit yang bersentuhan dengan bukit belerang. Sebuah ukiran raksasa di dinding bukit menunjukkan jelas dua wajah manusia. Mereka adalah Toar dan Lumi Mu’ut, dua orang yang diyakini bertemu di Bukit Kasih dan menjadi nenek moyang masyarakat Minahasa.

Jelang senja, saya sampai di atas sambil tersengal-sengal dan betis yang lumayan pegal. Namun semua terbayar dengan pemandangan Bukit Kasih dari ketinggian. Hamparan sawah, perkebunan bergantian dengan beberapa kampung di kejauhan. Gunung Lokon dan Klabat menjadi pagar betis, tegak berdiri mengelilingi. Semilir angin yang menerpa muka dan daun-daun yang saling bergesekan bak orkestra yang mengiringi saya menikmati bumi Minahasa.

Saya pun mengakhiri perjalanan di bukit kasih dengan merendam kaki di air panas. Dilanjutkan dengan pijatan kaki dan pundak oleh warga sekitar yang menyediakan jasa seharga Rp 25 ribu saja untuk 30 menit. Tak terlalu lama, tapi efeknya luar biasa.