Serunya Menaiki Roda Empat Menuju Puncak Tambora

Jalur Piong memang dibuka khusus untuk kendaraan ground clereance tinggi, seperti motor trail atau mobil Four Wheel Drive 4×4. Jarak dari Pos 1 menuju Pos V mencapai 21 km dengan rata rata waktu tempuh hingga empat jam, dilanjutkan jalan kaki sekitar 1,5 jam menanjak menuju kawah.

Melewati jalanan semi aspal di puncak musim kemarau, membuat debu mengepul, menjadi teman perjalanan saya menuju Desa Piong, Dompu, Sumbawa. Beberapa jalan berlubang parah, hingga seisi mobil terguncang dibuatnya.  Setelah 5 jam dari Ndoro Canga, akhirnya tiba juga kami di gerbang pendakian Tambora dari Jalur Piong. Jalur ini merupakan satu dari lima jalur yang ada untuk mencapai puncak Tambora.

Jalur ini memang dibuka khusus untuk kendaraan ground clereance tinggi, seperti motor trail atau mobil Four Wheel Drive 4×4.  Jarak dari Pos 1 menuju Pos V mencapai 21 km dengan rata rata waktu tempuh hingga empat jam, dilanjutkan jalan kaki sekitar 1,5 jam menanjak menuju kawah. Secara teori seperti itu.

Perjalanan dimulai, 30 menit melewati jalanan tanah berukuran lebar, mobil yang saya naiki bebas melaju naik hingga Pos 1. Melewati pos pertama, perjalanan yang sebenarnya dimulai.  Mendadak jalur menyempit, akar-akar pohon dan batu-batu beragam ukuran berserakan di sepanjang jalan. Butuh driver handal untuk melalui jalur pendakian ini, salah kemudi, lubang-lubang besar menanti.

Lepas dari Pos 2, jalur pendakian bertambah ekstrem. Pepohonan tinggi sudah tak terlihat lagi, berganti dengan sabana hijau tak berujung. Saya sedang beruntung karena cuaca cerah membuat gugusan bukit yang bergulung beradu dengan langit senja yang menggantung. Empat perjalanan rupanya kami baru berhasil sampai di Pos 3.Tak lama kami beristirahat, sang juru kemudi, meminta kami untuk segera naik ke mobil karena jalur yang dilewati akan semakin berbahaya kala malam tiba.

Lepas dari Pos 3,medan semakin menggila. Roda-roda mobil berulang kali harus terjebak dalam lumpur atau tanah berpasir penuh batu. Tingginya ilalang yang mencapai 1,5 meter membuat pengemudi harus ekstra hati-hati. Bibir saya komat-kamit mengucap doa agar kami tak salah jalan.

Beberapa tanjakan bisa mencapai kemiringan 70 derajat. Tak jarang mobil yang saya tumpangi harus menunggu mobil di depan untuk berhasil melewati tanjakan atau sebaliknya menunggu mobil di belakang agar dapat memastikan tanjakan berhasil ditaklukkan.

Setelah 7 jam perjalanan, dari gerbang jalur pendakian Piong, kami tiba di Pos 5. Begitu keluar dari mobil, saya begitu terkesima menyaksikan langit Tambora yang seperti hujan bintang. Gugusan-gugusan bintang terlihat jelas, beberapa kali bahkan saya melihat bintang jatuh.

Menikmati malam cerah di Pos 5, ibarat menyibak semesta yang kaya. Pesona Tambora malam hari yang masih jarang dikunjungi pengelana. Pos 5 menjadi tempat peristirahatan kami sebelum akhirnya tepat pukul empat pagi pendakian yang sebenarnya dimulai. Jalur menuju puncak relatif agak curam dan licin, sehingga pendaki harus ekstra hati-hati saat mendaki ke puncak.

Cukup 1,5 jam, kami tiba di puncak Tambora. Matahari belum muncul, hanya awan dan kabut tipis yang tampak di samping kanan kiri kami. Benar saja, pukul 7 matahari muncul dan kabut berangsur mundur. Kaldera Tambora menganga lebar di depan kami, sabana dan bukit-bukit seperti akar pohon yang kami lewati sebelumnya menjalar menuju kaki Tambora.

Puncak Tambora menjadi saksi erupsi maha dahsyat di masa lalu, sekaligus menjadi bukti betapa menawan dan eksotisnya Sumbawa masa kini. Sebuah pengalaman yang diidamkan seluruh petualang yang ingin merasakan pertunjukan alam.