Harmonisasi Etnis Jawa dan Tionghoa dalam Festival Grebeg Sudiro

Pertunjukan Barongsai hanya satu dari berbagai kemeriahan di Festival Grebeg Sudiro, perayaan Tahun Baru Imlek yang rutin Kota Solo yang diadakan setiap tahun. Kirab budaya, kreasi kue keranjang, sampai marching band Angkatan Darat ikut meramaikan festival ini.

Alunan musik pengiring Barongsai bercampur dengan riuh suara ribuan pengunjung yang memadati Pasar Gedhe, Solo, sungguh meriah. Tidak hanya masyarakat etnis Tionghoa yang tampak di tengah pengunjung, tapi semua lapisan masyarakat Kota Solo terlihat antusias dan menikmati liukan naga itu.

Pertunjukan Barongsai hanya satu dari berbagai kemeriahan di Festival Grebeg Sudiro, perayaan Tahun Baru Imlek yang rutin Kota Solo yang diadakan setiap tahun. Kirab budaya, kreasi kue keranjang, sampai marching band Angkatan Darat ikut meramaikan festival yang berlangsung di kawasan Kelurahan Sudiroprajan ini.

Kirab dari berbagai komunitas yang menyatukan unsur Tionghoa dan Jawa menarik perhatian saya. Warna-warni dan kreatifitas kostum-kostumnya membuat saya dan pengunjung lain bertepuk tangan dan berdecak kagum. Bagaimana tidak, ada sekumpulan burung merak, putri raja, sampai gunungan-gunungan miniatur monumen dan gedung di Solo. Meriah sekali!

Pasar Gedhe yang menjadi awal dan akhir kirab ini terlihat lebih padat dibanding di jalur kirab lainnya. Ternyata, pengunjung memang sengaja menanti di area tersebut karena setelah arak-arakan selesai, ribuan kue keranjang dibagikan secara cuma-cuma di situ. Saya pun tidak ingin kelewatan kehebohan ini. Saya berhasil mendapatkan satu buah kue keranjang dan menjadi cenderamata Grebeg Sudiro saya.

Dibalik berbagai keseruan itu, daya tarik utama festival ini sesungguhnya terletak pada keterlibatan etnis Jawa dan Tionghoa, baik itu sebagai panitia, pengisi acara atau hanya menjadi pengunjung. Masyarakat dari dua etnis ini tampak harmonis dan semakin menghidupkan warna-warni kostum kirab, Barongsai, dan lampion-lampion yang terpasang di pusat Kota Solo saat itu.

Satu situasi dan pemandangan yang tidak biasa, atau mungkin aneh bagi daerah lain di Indonesia. Jujur awalnya saya berpikir skeptis akan acara akulturasi budaya Jawa-Tionghoa ini. Tapi ketika berada di situ menyaksikan sendiri, sungguh rasanya damai dan menyenangkan.

Solo, sekali lagi, menunjukan pamornya sebagai kota yang nyaman nan indah bersatu dalam keberagaman di Festival Grebeg Sudiro. Semoga Solo bias menjadi contoh daerah lain agar tidak mudah terpecah belah karena isu budaya yang sebenarnya memang sangat sensitif. Solo tetap menjadi inspirasi nyata bagi saya akan dasar negara Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika.