Candi Borobudur, Mahakarya Arsitektur Mataram Kuno

Mahakarya nenek moyang, Candi Budha terbesar di dunia, tersusun atas jutaan meter kubik batu. Dibangun dengan tenaga manusia dan teknik, yang hingga kini masih jadi mister.

Candi Borobudur merupakan mahakarya nenek moyang yang diakui dunia, sebagai salah satu World Heritage oleh UNESCO. Candi Borobudur bukan sekadar tempat wisata, hingga kini masih digunakan untuk ritual upacara Waisak, upacara keagamaan umat Budha setiap tahun.

Tidak ada yang mengetahui pasti siapa yang menjadi arsitek pembangunan candi Budha terbesar di dunia ini. Tak ada bukti tertulis yang menyebutkannya. Ada cerita rakyat yang menyebut arsitek Candi Borobudur adalah Gunadarma, seorang arsitek ulung pada jaman pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra, sekitar abad ke 8.


Tiga Tingkat Kehidupan Manusia
Candi Borobudur dibangun dengan jutaan meter kubik batu yang diambil dari Sungai Progo. Jaraknya sekitar 2 km dari candi. Ribuan relief yang ada di Candi Borobudur menunjukkan tingginya budaya masyarakat jaman itu. Relief tersebut menceritakan kehidupan manusia dan kisah perjalanan Budha Gautama, merupakan sebagai relief Budha terlengkap di dunia.

Pada Candi Borobudur, manifestasi kehidupan manusia dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu Kamadatu, Rupadatu dan Arupadatu. Di tingkat kamadatu merupakan tingkatan yang paling rendah, kehidupan manusia yang masih penuh dengan hawa nafsu dan angkara murka. Rupadatu, merupakan masa kehidupan transisi menuju kehidupan yang lebih hakiki, walaupun kehidupan duniawi belum sepenuhnya ditinggalkan.

Pada tingkat yang paling tinggi adalah Arupadatu, manusia digambarkan telah meninggalkan sama sekali kehidupan duniawi untuk mencapai kebebasan dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa. Namun masih di dunia, belum mencapai nirwana. Pada tingkatan ini digamparkan dengan 72 dua stupa kecil tersusun dalam tiga barisan mengelilingi satu stupa induk.

Tingkatan tertinggi menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan pada stupa  terbesar dan tertinggi. Berbentuk polos tanpa lubang-lubang yang didalamnya pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna, atau disebut juga Buddha yang tidak rampung.

Banyak bagian dari Candi Borobudur yang hilang, karean pada masa pemerintahan Hindia Belanda tidak terawat. Bahkan terjadi pengambilan patung dan batu-batu candi. Beberapa bagian patung bahkan ditemukan di Museum Nasional Thailand. 


Komplek Wisata Candi
Berkunjung ke Cnadi Borobudur tidak hanya bisa menikmati kemegahan karya arsitektur nenek moyang berkelas dunia. Namun pada waktu-waktu tertentu bisa menikmati kemeriahan lain yang digelar di pelataran Kompleks Candi. Salah satunya prosesi pelepasan ribuan lampion setiap tahun saat peringatan Waisak. Pada perayaan ini ratusan ribu umat Budha dari Indonesia dan negara-negeara lain berbondong-bondong mengikuti upacara Waisak di kompleks Candi Borobudur.

Mengunjungi wisata Candi Borobudur perlu kesiapan dan perlengkapan yang cukup agar bisa menikmati keanggunan bangunan yang eksotis dengan nyaman. Dari pintu masuk menuju area candi jaraknya lumayan jauh dan jika berkunjung siang hari, panas terik matahari akan mengganggu. Siapkan kunjungan saat pagi hari, matahari belum terlalu menyengat.

Siapkan topi dan kacamata hitam jika merasa terpaan sinar matahari sulah mulai mengganggu. Karena Candi Borobudur adalah tempat ibadah yang disucikan oleh umat Budha, pakai pakaian yang sopan. Bila pakaian tak menutup lutut, pengelola candi sekarang menyediakan kain penutup. Jangan lupa, gunakan alas kaki yang nyaman untuk jalan.