Jathilan, Kuda Lumping Nan Membius dari Purworejo

Jathilan mampu bertahan menjadi produk kesenian Jawa yang bertahan sampai sekarang. Ia digemari mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga para turis yang penasaran dengan keunikan salah satu tarian tertua di Jawa ini.

Kekayaan budaya pertunjukan Jawa mampu membius siapa pun yang menyaksikannya. Ketika awalnya punya fungsi-fungsi magis-spiritual dan berhubungan dengan kerajaan, kini produk-produk kesenian Jawa mampu menarik banyak orang untuk mempelajarinya, atau sekadar terkesima menyaksikannya. Kalau Sobat Pesona menggemari tari-tarian khas Jawa, maka belum afdol kalau belum menyaksikan jathilan, kesenian khas Purworejo.


Tertua di Jawa
Tari jathilan dikenal juga dengan nama Jaran Kepang, merupakan salah satu jenis tarian yang berusia paling tua di Jawa. Tarian ini biasa juga dikenal dengan nama Kuda Lumping. Para penari akan menaiki kuda buatan yang diciptakan dari kepangan atau anyaman bambu, diberi riasan yang terkesan tangguh, mencitrakan diri mereka sebagai prajurit yang handal di medan perang sambil menunggangi kudanya.

Beberapa tokoh lain yang biasa dihadirkan dalam tarian ini adalah genderuwo dan singa. Dikisahkan kedua makhluk ini mengganggu prajurit yang tengah bersiaga di medan perang. Pementasan tari diiringi juga dengan musik tradisional yang tambah mengangkat pertunjukan ini.

Purwerejo merupakan daerah yang cukup sering mementaskan jathilan ini. Bahkan, tahun lalu, mereka mengadakan Grebeg Jathilan yang diikuti oleh ribuan penari, dari SD hingga SMA. Antusiasme yang besar membuat jathilan begitu mengakar bagi masyarakat Jawa yang telah begitu lama menjaga tarian ini agar terus hidup.

Keterlibatan para siswa untuk memeriahkan Grebeg Jathilan ini menjadi sebuah kesempatan berharga untuk mewariskan kebudayaan ini sambil mempertontonkannya kepada dunia. Tidak heran, antusiasme ini juga membawa para turis untuk menyaksikan pertunjukan ini, sekaligus menjadi pertanda bahwa kebudayaan Jawa mampu dinikmati oleh siapa pun juga.


Foto: Satria