Santai Sore di Titik Tertinggi Tidore

Sebuah gunung kokoh menjulang tinggi, membentuk piramida, menjadi perhatian utama, bagi siapa saja yang datang ke Tidore melalui jalur laut. Adalah Gunung Kie Marijang, dengan puncaknya yang dikenal dengan nama Kie Matubu.

Klakson kapal feri yang saya tumpangi terdengar begitu nyaring seraya diri ini meninggalkan Ternate dengan Gunung Gamalama yang tersohor. Kali ini, saya berada di Maluku Utara, sebuah provinsi di timur Indonesia dengan keindahan alam yang belum banyak disentuh, kisah sejarah, hingga ramah tamah penduduknya yang mampu membuat kita enggan pulang.

Setelah menjelajahi Ternate selama beberapa hari, tak lengkap rasanya jika saya tak mampir ke Tidore. Berada di barat Pulau Halmahera, Ternate dan Tidore dulunya menjadi lokasi idaman bagi penjajah saat mencari rempah-rempah di Indonesia.

Sebuah gunung kokoh menjulang tinggi, membentuk piramida,  menjadi perhatian utama, bagi siapa saja yang datang ke Tidore melalui jalur laut. Adalah Gunung Kie Marijang, dengan puncaknya yang dikenal dengan nama Kie Matubu. "Kie" dalam bahasa Maluku berarti gunung, sedangkan "matubu" berarti paling tinggi. Gunung ini menjadi target pendakian saya kali ini.

Titik awal pendakian kami adalah Gurabunga, sebuah desa yang berada di dataran tinggi tepat di punggungan  gunung Tidore. Untuk mencapai puncak Gunung Tidore terdapat beberapa jalur pendakian, tetapi kami memilih Gurabunga karena jalur pendakian ini adalah yang terpendek mengingat lokasi Kie Matubu yang sudah berada di ketinggian.

Tidak seperti pendakian gunung yang ada di pulau Jawa, untuk melakukan pendakian disini tidak terdapat pos perizinan untuk mengurus SIMAKSI. Kami hanya diwajibkan membawa seorang guide yang akan mengantarkan hingga puncak Kie Matubu. 

Karena tidak berencana menginap di puncak, kami memulai pendakian pada pukul 4 pagi. Udara terasa begitu dingin.  Dari awal 10 menit pertama, jalur pendakian sudah dipenuhi tanjakan yang cukup menguras tenaga. Padahal ini baru melewati kebun cengkeh dan pala milik warga desa.

Perjalanan kami lanjutkan hingga ke batas perkebunan dan hutan yang didominasi dengan jalur berbatu dan tanjakan yang cukup terjal. Setelah melewati tanjakan tersebut barulah kita akan memasuki kawasan hutan yang cukup lebat.

Sudah setengah jalan, pantang mundur sampai nanti sampai di puncak Kie Matubu. Setelah kurang lebih 6 jam  mendaki, kami akhirnya tiba di Pos terakhir, hampir dua kali lipat dari waktu yang diperlukan oleh masyarakat untuk tiba di sini.

Keluar dari Pos 5, hutan lebat tiba-tiba lenyap, berganti ilalang tinggi yang membentuk labirin-labirin hijau. Setelah melalui tanjakan 75 derajat, diselingi beberapa bonus mendatar, tibalah kami di bibir kawah Kie Matubu. 

Lubang besar menganga, menandakan bahwa gunung ini pernah aktif dimasa silam. Gulungan awan terlihat menutup jalur pendakian di sisi kiri.  Sementara di sisi depan, Ternate dan Gunung Gamalama terlihat megah dikelilingi oleh laut biru Maluku Utara. Saya takjub  luar biasa.

Kie Matubu mungkin tak setinggi dengan gunung-gunung lain yang ada di Indonesia. Namun, pendakian gunung setinggi 1730 meter ini akan menjadi salah satu pendakian yang tak akan saya lupakan. 

Kami membuka logistik, menyeduh kopi, dan mengeluarkan bekal yang kami punya, sembari menikmati pemandangan 360 derajat yang luar biasa ini. Menikmati santai sore di puncak Tidore ditemani kopi panas dan biskuit kelapa seadanya. Istimewa.