Perang Obor Jepara, Kisah Kyai Babadan dan Ki Gemblong

Perang obor Tegalsambi dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Dzulhijah dan jatuh pada hari Senin Pahing. Tradisi tersebut disebut perang obor karena masing-masing pemainnya saling memukulkan gulungan pelepah kelapa dan daun pisang yang telah kering dalam kondisi terbakar.

Nama Mbah Kyai Babadan dan Ki Gemblong tentunya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Desa Tegalsambi, Jepara, Jawa Tengah. Pada 16 Masehi, dari desa inilah lahir tradisi yang menarik yaitu perang obor.  Kini, perang obor menjadi pesta rakyat dan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang telah didapat.  

Dikisahkan Mbah Kyai Babadan yang kaya raya memiliki hewan ternak berupa sapi dan kerbau yang sungguh banyak jumlahnya. Karena dia kerepotan untuk menggembala seluruh ternaknya, maka dia meminta pertolongan kepada seorang penggembala ternak bernama Ki Gemblong.  Berkat ketekunan dan ketelatenan Ki Gemblong, seluruh ternak milik Mbah Kyai Babadan sehat-sehat dan gemuk.

Namun, pada suatu hari, Ki Gemblong tertarik dengan ikan dan udang yang terdapat di sungai saat dia sedang menggembala sapi Mbah Kyai Babadan.  Tanpa pikir panjang maka Ki Gemblong segera menangkap ikan dan udang untuk kemudian di bakar dan dimakan.

Sejak hari itu setiap hari Ki Gemblong selalu melakukan hal yang sama. Saking asyiknya, dia melupakan tugas menggembala ternak yang di percayakan kepadanya. Ternak-ternak milik Kyai Babadan berubah menjadi tidak terurus, sakit bahkan beberapa diantaranya mati. Kyai Babadan kebingungan karena  sudah mengusahakan segala cara untuk mengatasi hal tersebut namun tidak membuahkan hasil.

Suatu hari, Kyai Babadan mendapati Ki Gemblong sedang asyik menikmati ikan dan udang hasil tangkapannya. Hal ini membuatnya marah dan menghajar Ki Gemblong dengan obor dari pelepah daun kelapa kering. Ki Gemblong ternyata tidak berdiam diri langsung mengambil gulungan pelepah daun kelapa kering kemudian di bakar dan dipukulkan kembali ke arah Kyai Babadan.  

Perkelahian antara keduanya berlangsung sengit hingga percikan-percikan api menyebar kemana-mana. Tidak lama kemudian tumpukan jerami yang ada di sekitar kandang ternak mulai terbakar terkena cipratan api dari obor keduanya yang saling berbalas memukul. Kobaran api membakar kandang membuat semua ternak berhamburan lari tunggang langgang. Ternyata hewan-hewan yang sakit pun menjadi ikut berlarian dan secara tidak langsung menyembuhkan sakit dari hewan-hewan ternak. Melihat hal itu, Kyai Babadan dan  Ki Gemblong lalu menghentikan perkelahiannya.

Berawal dari kejadian tersebut, masyarakat Tegalsambi mewariskan tradisi perang obor dengan maksud untuk tolak bala mengusir penyakit.  Perang obor Tegalsambi dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Dzulhijah dan jatuh pada hari Senin Pahing. Tradisi tersebut disebut perang obor karena masing-masing pemainnya saling memukulkan gulungan pelepah kelapa dan daun pisang yang telah kering dalam kondisi terbakar.

Media utama yang digunakan dalam perang obor berupa gulungan pelepah kelapa dibalut daun pisang kering berukuran panjang 2,5 – 3 meter dengan diameter 10-20 cm. Upacara perang obor dimulai kira-kira jam 19.30 – 20.00 dan berlokasi di perempatan utama Desa Tegalsambi.

Selama perang obor berlangsung tidak jarang percikan api mengenai penonton yang memang sudah berkerumun sejak sore hari. Bagi Sobat Pesona yang berkeinginan menikmati acara adat perang obor ini, jangan lupa menyiapkan kain penutup hidung karena asap dan sisa abu yang beterbangan akan sedikit menyesakkan pernafasan. Pakailah baju yang tebal sehingga anda terhindar dan aman dari bahaya percikan api obor.