Bertualang di Hutan Kabut Lore di Jantung Sulawesi

Oleh para ahli ekologi hutan-hutan seperti di Lore diistilahkan sebagai hutan montana atau sering pula disebut sebagai hutan kabut (cloud forest). Di sini kita bisa mengeksplorasi kekayaan peninggalan megalit di Lembah Bada dan Lembah Besoa.

Dataran tinggi Lore menjadi dasar dari pembentukan Taman Nasional Lore Lindu. Lindu sendiri adalah nama sebuah danau yang terletak tak jauh dari Lore. Banyak lokasi dataran tinggi Lore terdapat ribuan peninggalan kebudayan megalit. Batu-batu besar cantik itu tersebar dari mulai Lembah Napu di utara hingga Lembah Rampi di selatan. Meliputi dua provinsi, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

Selain peninggalan megalit dan eksistensi Danau Lindu, hutan tropis yang masih apik di Lore menawarkan sensasinya sendiri. Hutan di Pulau Sulawesi memiliki karakter yang berbeda dengan hutan asli di pulau-pulau lain di Indonesia. Di Lore, hutan masih terhampar luas, terutama yang terletak di ketinggian.


Batu Megalit dan Hutan Kabut
Pilihan jalur trekking di Lore cukup banyak. Ini berdasarkan tersedianya jalur yang memang biasa digunakan oleh penduduk setempat untuk mengambil hasil hutan. Jalur Lembah Bada menuju Lembah Besoa adalah salah satu yang sering digunakan oleh para penikmat trekking. Jalur ini akan melintasi puncak gunung Pointo’a, yang jika kita berada di Lembah Bada atau Lembah Besoa akan jarang sekali dapat melihat puncaknya. Karena hampir selalu ditutupi kabut. Biasanya pengunjung memulai perjalanan dari Lembah Bada. Di sini kita bisa mengeksplorasi kekayaan peninggalan megalit di Bada.

Lembah Besoa juga tak kalah menarik dengan peninggalan megalit lainnya. Trekking biasa dimulai dari Kampung Kolori. Kampung yang terletak di timur laut Lembah Bada ini tidak terlalu ramai, lebih sepi dari kampung-kampung lainnya. Setelah melewati bangunan sebuah SMP Negeri, kita harus menyeberangi sebuah sungai kecil yang berair jernih. Jika tidak diburu waktu, ada baiknya menyempatkan diri untuk santai sejenak di sungai ini. Karena selepas sungai ini hutan yang cukup rapat telah menunggu.

Jangan bayangkan hutan di Lore berisi pohon-pohon besar jamaknya sebuah hutan hujan tropis. Pohon-pohon besar jarang sekali, lebih banyak pohon-pohon berukuran kecil hingga sedang. Oleh para ahli ekologi hutan-hutan seperti di Lore diistilahkan sebagai hutan montana atau sering pula disebut sebagai hutan kabut (cloud forest). Hal ini dikarenakan hutan-hutan seperti ini memang sering diselimuti kabut, terutama di bagian kanopi pepohonannya. Ciri lainnya adalah lumut dan pakis tumbuh subur dalam ekosistem hutan.

Selepas sungai, hutan rapat dengan jalan menanjak menjadi santapan. Semakin tinggi kita berjalan maka tebaran lumut semakin banyak. Demikian pula berbagai macam pakis. Beberapa pohon damar besar yang telah dilukai untuk dipanen getahnya tampak pula. Wajar karena masyarakat memang yang memanen getah damar dan lokasi ini belum terlalu jauh dari pemukiman. Sekira 2 jam jalan kaki saja.

Titik tertinggi antara Lembah Bada dengan Lembah Besoa adalah Puncak Pointo’a. Di puncak ini hampir tidak ada pepohonan, hanya padang berisi pakis yang menghampar luas. Di beberapa tempat pakis-pakis ini bahkan tumbuh melebihi tinggi orang dewasa. Berbagai jenis pakis tumbuh rapat, membuat kita harus jalan berhati-hati agar tidak tergores dahan-dahan kecilnya yang tajam.

Elevasi hutan dibawah padang pakis pun membuat takjub. Pohon-pohon pandan tumbuh sangat besar, akar-akarnya menjulang tinggi. Membuatnya terlihat seperti jejeran kaki-kaki hewan besar. Pemandangan sebaran pohon-pohon pandan ini membuat kita seperti berada dalam sebuah film sains-fiksi buatan Hollywood. Dan dibawah naungan pandan-pandan raksasa ini bermacam lumut masih menemani perjalanan.

Jamur-jamur pun tumbuh subur disini. Bukan hanya bentuk, warna dari jamur-jamur di hutan Lore sangat bervariasi. Dari berukuran beberapa milimeter saja hingga ada yang sebesar piring makan. Ada yang tumbuh sendirian maupun bersusun beberapa lapis. Akibat dari tumbuhnya berbagai varian lumut, pakis, dan jamur ini maka serangga pun banyak mencari rezekinya.

Kehidupan serangga yang berjaya mengundang binatang lain untuk berkembang di hutan-hutan Lore, yaitu laba-laba. Bermacam spesies dengan berbagai ukuran dapat dengan mudah ditemui. Seolah hampir di tiap langkah kita laba-laba dengan sarangnya juga mengiringi.

Turun melewati hamparan pakis, setelah itu maka Lembah Besoa perlahan mulai menampakan diri. Luas, cenderung rata, dan terlihat sangat menawan dari ketinggian. Lembah ini menyimpan pula peninggalan-peninggalan megalit. Tersebar di beberapa titik berbeda. Tak jauh dari situ ada Doda, salah satu kampung di Lembah Besoa. Di kampung ini ada 2 buah homestay sederhana.


Foto : Suryo Sumarahadi