SCBD, Hutan Beton Manhattan-nya Indonesia

Secara lokasi, SCBD sangat strategis karena dekat dengan perlintasan Semanggi dan sejumlah jalan protokol seperti Jalan Jenderal Sudirman serta Jalan Gatot Subroto. Inilah yang menjadikan Sudirman Central Business District layak disebut sebagai kawasan emas di Jakarta.

Sudirman Central Business District atau SCBD merupakan kawasan bisnis yang terletak di Jakarta Selatan, Indonesia. Lokasi SCBD sendiri terdiri dari kondominium, gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan hiburan. Total luas SCBD adalah sekitar 45 hektare yang dibagi menjadi 25 lot. Sekitar 13 hektar dari luas tersebut digunakan untuk jaringan jalan dan ruang hijau.

SCBD terletak di dalam Segitiga Emas Jakarta. Ada tujuh titik masuk dan keluar dari SCBD ke jalan yang berbeda di Jakarta. Sebagian besar gedung-gedung perkantoran di kawasan ini dihubungkan oleh terowongan pejalan kaki bawah tanah.

Beberapa gedung ternama yang ada di SCBD di antaranya, Indonesia Stock Exchange Building (dulu dikenal dengan nama Bursa Efek Jakarta), Pacific Place Mal, AG (Artha Graha) Building, Equity Tower dan Electronic City. Rencananya akan dibangun gedung 111 lantai setinggi 638 meter di SCBD. Jika rencana itu terwujud, maka Indonesia akan memiliki gedung tertinggi kelima di dunia.

Secara lokasi, SCBD sangat strategis karena dekat dengan perlintasan Semanggi dan sejumlah jalan protokol seperti Jalan Jenderal Sudirman serta Jalan Gatot Subroto. Inilah yang menjadikan Sudirman Central Business District layak disebut sebagai kawasan emas di Jakarta. Kisaran harga tanah di SCBD adalah Rp 260 juta hingga Rp 300 juta per meter persegi. Menjadikan SCBD sebagai daerah dengan harga tanah termahal di Indonesia.

Di sebelah utara, SCBD berbatasan dengan Jalan Jenderal Sudirman dan komplek Gelora Bung Karno – Senayan. Di sebelah timur, SCBD berbatasan dengan Jalan Gatot Subroto dan komplek Polda Metro Jaya. Di sebelah selatan, SCBD berbatasan dengan Jalan Senopati. Sementara di sebelah barat, SCBD berbatasan dengan Jalan Senopati serta Jalan Jenderal Sudirman.

SCBD dibangun, dikembangkan dan dikelola oleh PT Danayasa Arthatama Tbk, anak usaha PT Jakarta International Hotels and Development Tbk (JIHD). Keduanya merupakan bagian dari Artha Graha Network (AG Network), grup usaha milik konglomerat Tomy Winata.

Dulunya, SCBD adalah daerah pemukiman kumuh. Lalu pada tahun 1987, PT Danayasa Arthatama Tbk dibentuk dan memulai rencanna pembangunan. Pembangunan SCBD dimulai pada1992 dan selesai pada 1995. Philip Cox, arsitek dari Australia, dan CIME International ditunjuk untuk mengubah lahan ini menjadi superblok modern.

Saat itu belum, ada proyek pengembangan properti terintegrasi dan sebesar SCBD. Konon Tomy Winata mengucurkan dana Rp 7,5 triliun untuk membangun SCBD. Nilai yang fantastis untuk ukuran tahun 90-an. Tomy memang bercita-cita menjadikan SCBD sebagai "Manhattan-nya Indonesia".

Gedung pertama yang dibangun di SCBD adalah Artha Graha Building pada 1992 hingga 1993). Proyek konstruksi berikutnya adalah komplek gedung Indonesia Stock Exchange atau yang dulu bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pembangunan BEJ Tower 1 dan Tower 2 berlangsung selama 1995 hingga 1998. Pada 2007 hingga 2011, One Pacific Place dan Equity Tower dibangun. One Pacific Place adalah sebuah mal mewah yang terintegrasi dengan hotel Ritz-Carlton, apartemen dan perkantoran. Sementara itu Equity Tower adalah gedung perkantoran yang menempati lot 9.