Murwakala, Mitos Jawa Kuno di Candi Kidal

Ritual tua untuk mengeluarkan sisi buruk dari jiwa manusia. Di Kabupaten Malang, tradisi ini masih dilakukan di Candi Kidal yang dibangun pada abad 12. Diawali dengan tarian Garudeya yang mengisahkan perjuangan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan.

Ruwatan merupakan tradisi untuk mengeluarkan sisi tidak baik dalam jiwa manusia. Ritualnya berupa memotong rambut hingga melarung sesaji. Ritual yang disebut Murwakala ini masih dilakukan di Candi Kidal, Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Proses mitos Jawa kuno ini, tetap dipadati pengunjung yang ingin melihat tradisi itu.

Melongok sejarah Candi Kidal, ritual yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu itu, diawali dengan tarian Garudeya. Tari ini selalu menjadi pembuka ruwatan itu agar masyarakat yang tinggal di sekitar candi, dan masyarakat Indonesia, sejahtera, damai, hidup makmur dan keutuhan NKRI tetap terjaga.

Menurut sejarah, di bagian kaki Candi Kidal terpahat tiga buah relief yang menggambarkan cerita legenda Garudeya (Garuda). Ketiga panel Garudeya tersebut dipahat pada pilaster (tiang semu) bagian tengah batur Candi Kidal, tepat pada sisi Selatan, Timur dan Utara. Mengkisahkan Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. 

Candi Kidal dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada Raja Anusapati. Candi ini dibangun agar Sang Raja mendapat kemuliaan sebagai Syiwa. Candi Kidal dibangun pada 1248 Masehi, setelah upacara pemakaman 'Cradha' untuk Anusapati. Relief Garudeya pada tubuh Candi Kidal sebagai amanat dari Raja Anusapati.

Amanat ini muncul karena keinginan besar Anusapati untuk meruwat ibunya, Ken Dedes. Kembali ke ritual Murwakala, lebih kepada ritual untuk menyucikan kembali pemikiran yang dilambangkan dengan pengambilan rambut. Menjadi makna utama jiwa utama manusia bersih kembali. Di zaman sekarang, ritual tersebut diikuti pimpinan yang menjabat. Atau disebut Nayaka Praja.


Foto : Guest Gesang