Serunya Menyelam dari Tengah Kota Ternate

Bisa menyelam dengan entry langsung jarak lima langkah saja dari pusat kota! Ini menjadi pengalaman pertama saya diving dari tengah kota, di pinggir sebuah taman yang penuh dengan masyarakat Ternate yang sedang berakhir pekan.

“Besok pagi, kita ketemu di Taman Nukila, ya,”, ujar Bang Sultan, dive master kami di Ternate. Saya mengiyakan saja. Keesokan harinya, saya datang ke Taman Nukila.  Taman kota ini penuh dengan keluarga, muda-mudi, hingga manula yang ingin berolahraga. Beberapa bahkan menggelar tikar untuk sarapan bersama. Letaknya yang berada di tepi pantai dan masjid besar Ternate membuat taman ini menjadi salah satu spot favorit masyarakat Ternate.

“Bang, aku sudah di Taman Nukila, nggak salah nih kita start dive disini?”, saya bertanya pada Bang Sultan via telepon, sesaat setelah tiba di Taman Nukila. “Iya.  Kamu ke pojokan, ya, yang ada balai kayunya. Dekat kamar mandi umum,” jawab Bang Sultan singkat.

Sampai pojokan yang dimaksud, saya lumayan kaget. Beberapa orang sedang mempersiapkan peralatan diving. Tak ada kapal terlihat bersandar di mana pun. Tanpa pikir panjang, saya segera bergabung dan mempersiapkan diri. Dan setelah briefing singkat, barulah saya sadar bahwa titik penyelaman ada di laut depan Taman Nukila.

Ini luar biasa istimewa. Bisa menyelam dengan entry langsung jarak lima langkah saja dari pusat kota! Ini menjadi pengalaman pertama saya diving dari tengah kota, di pinggir sebuah taman yang penuh dengan masyarakat Ternate yang sedang berakhir pekan. Ini hanya satu, dari 17 titik lain di bibir pantai Ternate yang bisa dijadikan entry diving.

Tanpa banyak basa-basi, kami pun memulai penyelaman. Laut di depan Taman Nukila memang cukup ideal. Titik masuk penyelaman tidak lebih dalam dari 5 hingga 6 meter, tapi semakin menjauh garis pantai laut akan semakin dalam. Aneka soft coral dan hard coral dengan ikan-ikan kecil akan membuat kita menikmati diving di titik Taman Nukila.

Beberapa motor dan bus juga nampak sengaja ditenggelamkan oleh pemerintah setempat sebagai artificial reef dan destinasi wisata selam. Saat ditenggelamkan, sebelumnya mesin dan tanki bahan bakar motor dan bus telah diambil terlebih dahulu agar sisa oli dan minyak tidak mencemari perairan.

Tak terasa waktu habis, kami harus kembali ke permukaan. Sembari melakukan equalizing sesuai standar penyelaman aman, kami pun masih mendapat “bonus” yaitu melihat beberapa ikan Nemo alias ikan badut bermain di anemon. Benar-benar diving plus-plus. Underwater yang menyenangkan, arus yang tak terlalu kencang, visibility yang sempurna, plus letaknya yang ditengah kota. Saking dekatnya, saya bisa memesan nasi padang yang berjarak hanya 5 menit setelah sampai daratan. Mantap, kan?