Kesultanan Pontianak, Berawal dari Menyebarkan Ajaran Islam

Penyebaran agama Islam menjadi pondasi awal berdirinya pemerintahan Kesultanan Pontianak. Terbukti dari dibangunnya Masjid Jami di daerah baru itu. Selanjutnya, Sultan Abdurrahman membangun Istana Istana Kadriah.

Kesultanan Kardiyah Pontianak merupakan salah satu kesulatan Melayu yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdulrrahman Alkadrie pada 1771. Sultan Syarif Abdulrrahman Alkadrie melakukan dua pernikahan politik di Kalimantan, pertama dengan putri Kerajaan Mempawah dan kedua oleh putri dari Kesultanan Banjar.

Setelah menikah, Sultan Abdurrahman mencari tempat baru untuk dipimpin. Lalu, ia bersama sejumlah orang menaiki 14 perahu untuk memulai perjalanan dari Mempawah untuk menyusuri Sungai Kapuas. Rombongan Sultan Abdurrahman tiba di persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 1771. Dia dan para rombongan kemudian membuka area hutan untuk jadi permukiman baru.

Penyebaran agama Islam menjadi pondasi awal berdirinya pemerintahan Kesultanan Pontianak. Terbukti dari dibangunnya Masjid Jami di daerah baru itu. Selanjutnya, Sultan Abdurrahman membangun Istana Istana Kadriah. Sultan lalu mendapat pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada 1779.

Sultan Abdurrahman bertekad untuk meneruskan jejak sang ayah, Habib Husein. Ayahnya merupakan Ulama Besar dari Tarim Hadramut Yaman. Habisb Husein melakukan perjalanan ke nusantara untuk menyebarkan agama Islam dengan cara berdakwah.

Habib Husein memulai penyebaran Islam dari Aceh hingga ke Semarang. Habib Husein lalu berlayar ke Kerajaan Matan, Kalimantan Barat. Di sini, Habib Husein bertemu dengan Nyai Tua, istrinya. Lalu, Nyai Tua melahirkan Sultan Abdurrahman.

Tiga tahun menetap di Matan, Habib Husein keluarga pindah ke Kerajaan Mempawah yang dipimpin oleh Penembahan Adijaya, anak dari Opu Daeng Manambon. Mereka bersama-sama melanjutkan dakwah syiar Islam.

Berbekal pengalaman bersama ayahnya, Sultan Abdurrahman pun berkeinginan menyebarkan agama Islam. Sultan Abdurrahman pun dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dalam membuat keputusan.

Sultan Abdurrahman lalu membangun beberapa permukiman yang berada di sekitar Masjid Jami. Permukiman tersebut di antaranya Kampoong Dalam, Kampoong Bugis, Kampoong Tambelan Raja dan Kampoong Banser. Kampung-kampung ini dikenal sangat kental dengan nilai-nilai Islam, termasuk dalam budaya dan aktivitas yang dijalankan masyarakat di sana.

Pada 1808, Sultan Abdurrahman wafat dan dimakamkan di Batu Layang. Kepemimpinan dilanjutkan ke anak-anak sultan. Terakhir, Kesultanan Pontianak dipimpin oleh Syarif Hamid dan diberi gelar Sultan Syarif Hamid atau Sultan Hamid II.

Selepas kemerdekaan pada 1945, atas prakarsa Sultan Hamid II, Kesultanan Pontianak dan kesultanan Melayu lainnya di Kalimantan Barat untuk bergabung dengan Republik Indonesia Serikat. Setelah Sultan Hamid II wafat, Kesultanan Pontianak sempat tak dipimpin oleh sultan hingga 25 tahun lamanya.

Hingga pada 29 Januari 2001, seorang bangsawan senior Syarifah Khadijah Alkadrie, mengukuhkan Kerabat Muda Istana Kadriah Kesultanan Pontianak. Tujuan kehadiran Kerabat Muda adalah untuk menjaga dan melestarikan tradisi nilai budaya Melayu Pontianak hingga di sama yang akan datang.