Sungai Kampar, Hasilkan Ombak Selancar Kelas Dunia

Berselancar di sungai? Mengapa tidak. Sungai Kampar di Riau tak hanya jadi sumber penghidupan warga sekitarnya, tapi juga memiliki fenomena alam ombak setinggi 5 meter dengan kecepatan 50 km/jam.

Meningkatnya minat peselancar internasional untuk menguji adrenalin di laut Indonesia turut menunjukkan semakin dikenal luasnya keunggulan alam Indonesia. Namun, jangan salah, ternyata Indonesia tak hanya memiliki laut untuk dijadikan medan berselancar. Sungai Kampar di Riau belakangan menjadi buah bibir karena memiliki ombak yang ternyata bisa dimanfaatkan untuk berselancar. Ombak di sungai? Betul.


Makin Deras Arus Sungai, Makin Besar Ombak
Fenomena ombak sungai ini hanya terjadi di Sungai Kampar, dikenal dengan nama bono. Ombak bono adalah jenis ombak yang terjadi di sungai akibat benturan antar arus sungai yang akan menuju laut dengan arus laut yang menuju sungai ketika sedang pasang. Pertemuan keduanya menghasilkan ombak bono yang diminati para peselancar untuk merasakan sensasi selancar yang berbeda.

Sungai Kampar adalah sungai sepanjang 450 km lebih, membentang dari Riau hingga Sumatra Barat. Ada dua anak sungai yang berada di Kampar, yakni Sungai Sampar Kanan yang melewati Kabupaten Kampar dan Kabupaten Lima Puluh Kota; lalu Sungai Sampar Kiri yang melalui Kabupaten Sijunjung, Singingi, dan Kampar. Dengan arus sungai yang cukup kuat, Sungai Kampar dijadikan sebagai salah satu pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Ombak bono yang terjadi Sungai Kampar berlokasi di Kabupaten Pelawan, tepatnya di Desa Pulau Muda. Ombak bono di Desa Pulau Muda ini menjadi daya tarik wisata Sungai Kampar, dengan tingginya kedatangan peselancar dari luar negeri, bahkan kompetisi selancar sungai internasional. Bahkan, ketika di musim penghujan, saat debit air di Sungai Kampar bertambah, ombak bono yang dihasilkan akan semakin besar.

Sungai Kampar menghasilkan kurang lebih 5 meter ombak, dengan kecepatan mencapai 50 km per jam, cukup menantang tapi juga tidak terlalu berbahaya. Dapat dikatakan, keragaman wisata alam seperti ini yang diproyeksikan akan menarik lebih banyak perhatian wisatawan.


Foto: Shodik Purnomo, Muhammad Eko Prasetyo, Jacky Hijratul