Menembus Ruang dan Waktu di Glodok

Suasana di Glodok sangat menarik untuk dijelajahi. Sobat Pesona bukan hanya bisa mencoba berbagai kuliner legendaris, tapi juga melihat tradisi dan bangunan kuno yang menjadi daya tarik Glodok.

Saya kerap menghabiskan waktu di area Glodok saat akhir pekan, kalau memang sedang di Jakarta. Rasanya, tak ada habisnya mengeksplorasi daerah ini, baik buat menemukan spot-spot menarik baru atau mencoba aneka kuliner yang ada.

Di sudut jalan, ada bangunan cantik yang pasti langsung menarik perhatian. Namanya Pantjoran Tea House yang sempat lama dikenal sebagai Apotheek Chung Hwa, toko obat tertua di Batavia. Di sini, mereka masih melakukan tradisi Patekoan, yaitu menyajikan 8 teko teh secara cuma-cuma untuk siapa pun yang kebetulan sedang melintas. “Pa” secara harfiah artinya delapan, sedangkan “tekoan” mengartikan teko. Angka delapan secara filosofis dianggap sebagai angka keberuntungan karena bentuknya yang tak pernah putus. Sehingga, diharapkan teh dari patekoan ini akan membawa keberuntungan baik bagi yang menyajikan maupun yang meminumnya.

Kemudian, saya menyusuri Gang Gloria. Hingga ujung gang nanti, tak putus aneka santapan dapat dijajal di sana. Mulai dari nasi campur, bakcang, baso goreng, bebek panggang, soto betawi, pie oh, siomay, bektim sekba sampai es kopyor. Biasanya, orang senang mampir ke Es Kopi Tak Kie untuk minum Es Kopi Susu. Tiba di ujung Gang Gloria, ada area makan yang menyediakan mi kangkung, bihun kari sapi dan bihun kari ayam. Jangan lupa pesan liang teh untuk menghilangkan dahaga.

Oh, saya belum bilang, ya, bahwa di ujung Gang Petak Sembilan menghadap ke Jalan Pancoran ini, kalau sore juga ada pedagang sate padang, yang menurut saya, termasuk salah satu yang terenak di Jakarta. Biasanya berjualan sekitar pukul 3 sore. Dan percayalah, sebelum pukul 7 malam, dagangannya seringkali sudah ludes!

Saya juga suka menelusuri Gang Kalimati. Di sepanjang jalan ini, banyak penjaja makanan. Sebut saja Mie Belitung, Nasi Campur, Cempedak Goreng, Laksa, Bapao, Sup Obat. Semuanya ada! Perhatikan bangunan yang biasanya berupa rumah, namun bagian depannya acap dijadikan toko atau tempat berdagang. Nyaris semuanya berusia lebih dari 80 tahun.

Tiba di sebuah gang di dekat Jalan Perniagaan, saya menyusuri jalan hingga tiba di Wong Fu Kie, sebuah rumah makan dengan masakan khas Hakka yang sangat tersohor. Bayangkan sebuah rumah makan di tengah gang kecil, tapi jika diharuskan antre lebih dari satu jam pun, orang rela antre mengular.

Area Glodok ini sungguhlah memikat. Budaya Tionghoa yang kental masih terasa, namun sekaligus bisa dilihat bagaimana eratnya hubungan mereka dengan masyarakat dari etnis non-Tionghoa. Sempat pula saya tangkap sebuah ajakan berbuka puasa bersama dan gratis di Kelenteng Toasebio. Selalu pulang dari Glodok dengan perasaan senang, karena pengalamannya begitu beragam dan tidak pernah sama. Coba, deh, Sobat Pesona jadikan tempat ini sebagai tujuan pergi di akhir pekan!