Jalinan dan Warna Penuh Makna, Tenun Ikat Sumba yang Memikat

Tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tenun ikat Sumba memiliki makna mendalam. Tenun merupakan bagian penting setiap upacara, adat istiadat dari kelahiran hingga ke liang lahat.

Bersamaan dengan Festival Sandalwood 2019, Festival Tenun Ikat Sumba juga digelar di pulau yang didominasi oleh pemadangan padang rumput sejauh mata memandang ini. Festival yang akan di gelar pada tanggal 12-15 Juli 2019 ini tak hanya memamerkan keindahan kain-kain tenun ikat Sumba, tetapi juga memiliki serangkaian acara menarik seperti seminar dan workshop seputar tenun ikat Sumba.

Kain tenun ikat Sumba merupakan kain tenun yang sangat diminati oleh masyarakat, khususnya para kolektor kain asli Nusantara. Permintaan yang terus meningkat dan produksi yang terbatas menyebabkan kain ini mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Tapi kain hasil produk budaya dan tradisi memiliki lebih dari sekedar nilai ekonomis. Kain tenun adalah elemen sakral bagi masyarakat Sumba. Motif kain tenun ikat Sumba merupakan sebuah penghayatan terhadap karya Tuhan, cerminan kekayaan alam dan adat istiadat serta strata sosial masyarakat Sumba.


Simbol Cinta, Dibawa Sampai Mati
Lalu kenapa harga kain tenun ikat Sumba begitu mahal, khususnya yang menggunakan pewarna alami? Selain permintaan yang tinggi, tenun ikat Sumba melalui serangkaian proses yang cukup panjang. Selembar kain tenun ikat ukuran sarung yang dikerjakan satu orang, bisa menghabiskan waktu sekitar 4-6 bulan.

"Kalau soal tahap untuk tenun yg pewarna alam lebih lama dari pada pewarna sintetis. Dan juga masih  ada tenun yang dibuat dari kapas pintal yg dilakukan secara manual,” jelas Nike Vonika, seorang peneliti tenun ikat dan juga dosen disalah satu perguruan tinggi di Bandung.

Tahap menenun dimulai dari menyiapkan benang lungsi (benang sejajar), pengikatan untuk membuat motif, pencelupan (kadang sampai berkali-kali pencelupan agar warnanya benar-benar keluar), lalu baru ditenun. Untuk beberapa tenun ikat masih ada proses finishing, yaitu membuat Kabakil, mengikat kain tenun di bagian pinggir atas dan bawah, lalu dipelintir.

Di Sumba, kain tenun ikat dikerjakan oleh perempuan. Mereka biasa mengerjakan tenunan di sela-sela waktu luang setelah melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti mengurus suami, anak dan ternak. Kain tenun ikat yang dibuat dan diberikan kepada suami dimaknai sebagai sebagai bukti cinta dan bakti mereka kepada suami. Kain ini akan terus dibawa hingga suami meninggal dunia, digunakan untuk menutup jenazah.

"Dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba, kain tenun merupakan simbol penghormatan, persatuan dan kedalaman rasa," ujar Nike.

Selamat menikmati Festival Tenun Ikat 2019, selamat berburu kain indah!


Foto : Mikhael Naftali