Kisah Tambora yang Menggetarkan Dunia

Gunung Tambora kokoh berdiri, menjadi latar, menemani matahari menuju peraduan. Tak ada hilir mudik kendaraan, tak ada pula perkampungan di sekitar. Begitu hening, hingga semilir angin seakan bisa terdengar. Jelang senja yang sungguh istimewa.

Menjejakkan kaki di Doro Canga, setelah 4 jam perjalanan dari Kota Bima, saya disuguhi lanskap magis Sumbawa. Puluhan kuda, sapi dan kerbau santai merumput, beberapa seakan tak peduli dengan kedatangan manusia dan melenggang di padang sabana yang maha luas ini.

Gunung Tambora kokoh berdiri, menjadi latar, menemani matahari  menuju peraduan.  Tak ada hilir mudik kendaraan, tak ada pula perkampungan di sekitar. Begitu hening, hingga semilir angin sekan bisa terdengar. Jelang senja yang sungguh istimewa.

Namun ada yang menarik perhatian. Bongkahan batu beragam ukuran menemani setiap langkah kaki saya saat berada di sabana Ndoro Canga. Ada yang seukuran kepalan tangan , ada pula yang berupa bongkahan batu besar berserakan tak beraturan.

Belum sempat saya bertanya, salah seorang Ahli Geologi dari Geopark Nasional Tambora menceritakan bahwa batu-batu ini bukan sembarang batu. Batu-batu ini dalam istilah geologi disebut piroklastik. Singkatnya batu-batu ini adalah material muntahan Gunung Tambora ratusan tahun silam.

Dua abad lalu, tepatnya pada 10 April 1815, erupsi dahsyat Gunung Tambora tercatat sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah. Gunung Tambora memuntahkan material lebih dari 150 miliar meter kubik dan memangkas ketinggian Tambora yang semula 4.200 mdpl menjadi 2.850 mdpl.

Letusan Tambora juga membumihanguskan Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora, dan Kerajaan Pekat. Puluhan ribu jiwa tewas disapu awan. Sumbawa gelap gulita. Tsunami akibat material yang jatuh ke laut mencapai Maluku hingga Pulau Jawa. Dentuman letusan bahkan terdengar hingga Batavia.

Asap vulkanik Tambora terbawa hingga stratosfer dan menutup seluruh bumi, menghalangi sinar matahari, merubah iklim dunia dalam sekejap saja. Pada 1815, Eropa mengalami musim panas tanpa matahari dan menggagalkan panen jutaan hektar  pertanian, menyebabkan wabah kelaparan, dan  wabah penyakit berkepanjangan.

Namun hari ini, jejak letusan Tambora, menjelma menjadi beragam lanskap yang memanjakan indra. Ndoro Canga salah satunya. Tempat ini tak hanya jadi tempat tepat untuk mengagumi Tambora, tapi juga sekaligus menjadi salah satu jalur pendakian utama menuju puncak Tambora.

Matahari semakin tergelincir ke ufuk barat, mengubah semua yang ada disekitar menjadi kuning keemasan. Semburat jingga bertemu dengan langit biru. Membuat sabana di kaki Tambora begitu mempesona.

Saya seperti menghilang, merasakan damai sekaligus hening yang meneduhkan. Sesuai namanya dalam Bahasa Bima, “Ta berarti mengajak, Mbora berarti menghilang”. Maka, bersiaplah menghilang dan menemukan keindahan Sumbawa di kaki Gunung Tambora.