Annyorong Lopi, Menjaga Tradisi Melepas Pinisi

Tradisi melepas legenda bahari Nusantara, kapal pinisi di Tana Beru, Bulukumba. Didorong dengan tenaga manusia, mesti dilakukan siang hari, pada hari yang tepat menurut hitungan tanggal adat Bugis.

Pagi belum jauh beranjak di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Di pesisir pantai Bulukumba, terlihat puluhan orang telah sibuk dengan persiapan ritual Annyorong Lopi yang akan dimulai pukul 09.00 WIT. Ini keriuhan rutin, tiap kali pembuat kapal di Tana Beru akan melepas legenda bahari Nusantara itu, kapal pinisi.

Annyorong Lopi diambil dari bahasa Konjo, yaitu bahasa sub etnis Makassar. Annyorong berarti mendorong, sedangkan Lopi berarti perahu atau kapal. Secara bebas dapat diterjemahkan tradisi mendorong perahu Pinisi dari tempat pembuatan atau galangan  ke laut. Ini merupakan satu dari rangkaian acara Festival Pinisi 2018 yang tahun ini telah digelar untuk ke-9 kalinya.


30 Meter Dalam 2 Jam
Ritual pelepasan kapal ini sudah dimulai dari malam sebelum kapal diluncurkan ke laut. Malam sebelum digelar ritual menolak bala, yang dalam bahasa setempat disebut Appasili dan juga Ammosi'.  Oya untuk waktu peluncuran dilakukan pada hitungan hari tertentu sesuai kebiasaan adat Bugis dan dilakukan pada siang hari.

Acara dimulai dengan suguhan atraksi pencak silat atau dalam bahasa setempat disebut Manca' yang diiringi tabuhan gong.  Suasana di sekitar bantilang atau galangan kapal semakin ramai dan meriah. Dan semakin menjadi ketika puluhan orang merangsek ke bibir pantai, bahu membahu berusaha menarik badan kapal yang beberapa hari sebelumnya sudah dibuatkan kengkeng jangang, sebutan untuk balok-balok yang berukuran panjang dan besar yang disusun sedemikian rupa untuk menyangga badan kapal agar tetap tegak.,

Sementara teriakan lantang komando bersahutan dengan nada yang khas “ Lariiilambate…!!!”. Teriakan ini segera disahuti oleh para penarik dengan teriakan “ Taratajo…”.

Sesekali komando berhenti, ketika kapal tidak lagi bergerak. Kemudian beberapa orang sibuk membenahi dan menyusun kembali kayu-kayu dibawah badan kapal agar kapal bisa kembali bergerak ketika ditarik dan juga didorong oleh puluhan orang. Tidak mudah memang, memindahkan atau sekedar menggeser badan kapal yang begitu besar. Koordinasi antara yang menarik, mendorong dan juga yang mengungkit bagian bawah kapal harus dilakukan seirama.

Teriakan sorak sorai menggema, ketika mereka berhasil menggeser sedikit saja badan kapal. Ada jarak sekitar 30 meter jarak dari galangan ke bibir pantai. Dan butuh waktu hampir 2 jam untuk dapat memindahkan kapal ke pantai. Bukan pekerjaan mudah memang, namun kebersamaan yang terjalin dan kerjasama yang kompak menjadi semuanya terasa ringan terlebih suasana canda tawa yang kerap menyelingi. Teriknya matahari seperti tidak lagi di rasakan…

“Kapal Pinisi diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia. Bukan saja karena kontruksi fisik dan juga ketangguhannya yang sudah teruji. Namun yang tidak kalah pentingnya nilai kearifan budaya lokal dan unsur pengetahuan yang terkandung didalamnyalah yang membuatnya menjadi sebuah mahakarya,” ujar Wakil Bupati Bulukumba, Satria Yulianto.