Masjid Raya Ganting, Masjid Tertua dan Simbol Persatuan di Tanah Minang

Masjid tertua di Padang, pembangunannya dimulai pada awal abad 18, melibatkan kolaborasi saudagar Minangkabau, Tiongkok dan Belanda. Dulu menjadi pusat pergerakan perjuangan kemerdekaan, kini menjadi simbol persatuan dan akulturasi di Tanah Minang.

Masjid Ganting terletak di Jalan Ganting nomor 3, Kelurahan Ganting, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat. Salah satu masjid bersejarah di Sumatera Barat ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, merupakan masjid tertua di Padang yang dibangun pada 1805. Beberapa sumber justru menyebut masjid ini dibangun sebelum tahun tersebut. Masjid Ganting pada mulanya terletak di kaki Gunung Padang, kemudian dipindahkan ke tepi Batang Arau, dan terakhir di lokasi sekarang.


Pusat Pergerakan dan Simbol Persatuan
Pembangunan Masjid Ganting diprakarsai oleh Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Uma (kepala kampung Ganting), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama). Selain dari masyarakat Minangkabau, masjid ini juga mendapatkan bantuan pembangunan dari orang-orang Tiongkok di bawah komando Kapten Lo Chian Ko. Mereka mengerjakan kubah yang dibuat mirip atap vihara, yaitu berbentuk persegi delapan.

Pada 1910, Belanda juga membantu mengembangkan masjid dalam hal perpanjangan bilik muka sepanjang 20 meter dan pembuatan bagian depan masjid yang bergaya Portugis. Selain itu, lantai masjid diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Bantuan tersebut dilakukan melalui Komandan Korps Genie wilayah Pesisir Barat Sumatra (Sumatra Barat dan Tapanuli) sebagai kompensasi tanah wakaf yang digunakan untuk jalan.

Unsur kesejarahan masjid ini tidak hanya terletak dalam hal pembangunannya. Perannya sebagai pusat pergerakan kemerdekaan tidak diragukan lagi. Bahkan, pada 1942, Soekarno pernah menginap sementara waktu di salah satu rumah pengurus masjid dan sempat memberikan pidato di masjid ini.

Masjid ini memiliki 8 pintu dan 25 tiang penyangga. Tiang-tiang tersebut berbentuk segi enam dan terbuat dari bata merah dengan bahan perekat kapur dicampur putih telur, sama sekali tidak menggunakan tulang besi. Jumlah tiang itu melambangkan rasul yang berjumlah 25, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Tiang-tiang tersebut berfungsi sebagai penopang utama atap masjid.

Masjid Ganting merupakan lambang kemajemukan dan akulturasi. Selain dibangun oleh beragam etnis, masjid ini juga berasitektur campuran, yaitu Eropa, Timur Tengah, Tiongkok, dan Minangkabau. Oleh karena itu, selain bersifat religius, masjid ini juga menyimpan kekayaan historis dan kultural.


Foto : Ubay